Jam rumah sakit menunjukan pukul 22:20 malam. Arta telah sadar, dokter yang menanganinya bernafas lega. Arta yang masih belum pulih benar itu masih terbaring lemah. Tak ada yang menemaninya malam itu. bahkan ayahnya tak ada disana. Dia sendirian, bahkan disaat yang seperti itu. kadang cowok ini memang sangat lemah, bahkan lebih dari yang orang kira. Dia memang selalu tertawa, dia memang selalu bisa membodohi semua orang dengan topeng yang dia kenakan. Dia memang bisa membohongi semua orang dengan semua ‘cerita bahagianya’. Dia memang bisa membiarkan seolah-olah dia itu sehat, fisik dan batinya.
Arta memang sangat pintar. Namun hanya satu yang tak bisa dia lakukan, dia gak bisa tertawa didalam hatinya, dia gak bisa membodoh-bodohi dirinya sendiri! Dia gak bisa membohongi kalau cerita yang dia jalani saat ini sangat menyakitkan, sangat menguras emosi bahkan untuk dia sendiri. dia lemah! Dan dia sadari itu
.........-______-.........
Aya hanya bisa terpaku diam ditempat saat dia sadari siapa yang sedang datang dan bertamu kerumahnya larut malam seperti ini. Arta. Arta datang dengan wajah pucatnya, dengan kaos putih yang menempel jelas dibadannya yang terbilang cukup ideal itu karena basah, dengan celana jinsnya. Badannya menggigil.
Aya segera menyuruh Arta masuk, segera diambilkannya handuk untuk arta. Dan dibikinkan secangkir cappucino hangat untuk Arta.
“baju lo basah mau pinjem baju gue gak?” tanya Aya setelah memberikan secangkir cappucino kepada Arta
“emmmmm”
“tenang, gue punya baju yang seukuran lo kok. Yang pasti bukan baju cewek” kata Aya begitu saja setelah melihat raut wajah Arta
“emmhh boleh deh” ucap Arta pelan
Tak lama kemudian Aya memberikan kaos berwarna hitam yang masih berplastik dan berlogo itu kepada Arta. Dipandanginya wajah Arta yang masih pucat itu.
“ngapain lo kesini?” tanya Aya, setelah hening yang mendominasi sejak tadi
“nyari ketenangan.” Jawab Arta ringan
“ha? Maksud lo?” tanya aya kaget.
“iyaaa gue kesini mau nyari ketenangan. Gue pengen istirahat. Gue capek. Boleh?”
“dari sekian banyak temen lo. Kenapa harus gue ta?”
“gak tau. Yang gue tau gue mau kesini. Alasannya apa gue gak tau. Boleh gak pertanyaan ditabung aja dulu. Gue capek banget. Kepala gue pusing. Gue mohon ay,” minta Arta penuh harap.
“okedeh. Gue kasihan sama lo. Entar gue siapin kamar buat lo.”
Aya berjalan dan menghilang dibalik pintu salah satu kamar dirumahnya. Arta tersenyum melihat itu. dipandangi lorong kosong tempat aya berjalan tadi.
“kamarnya udah siap. Lo masuk aja kekamar yg gue masukkin tadi. Gue mau istirahat gue capek. Gue ngantuk. Kalo lo laper buka aja kulkas, kalo lo ada apa-apa cari aja sendiri. Jangan ganggu gue”
Arta mengangguk mantap. Aya segera menaiki tangga dengan lemas. Arta memandangi punggu aya yang menghilang diujung tangga itu. dan dia segera masuk kekamar yang tadi dimasuki aya. Dihidupkanyanya lampu kamar itu, dan direbahkan tubuh lemahnya diatas kasur. Tak lama arta pun terlelap bersama mimpinya, bersama anganya, bersama ketakutanya selama ini.
.........-______-.........
Jam sudah menunjukkan pukul 4:14 subuh ini. Namun Aya masih saja terjaga didalam kamarnya. Kamar yang redup dan hanya diberi penerangan dari lentera dibalkon kamarnya. Pertanyaaan, rasa penasaran, bingung, takut. Semuanya beradu dalam pikirannya.
tuh cowo kenapa sih? Dia sakit apa? Kenapa dia malah datang ke gue? emang hubungan gue dengan dia apa? Apa ada yang salah dengan gue? Oh GOD sebenarnya ada apa ini? Ada kejutan apalagi besok. Gue takut. Takut kalau besok bakalan lebih parah dari ini, takut kalau besok gak bakal bisa kuat gue jalanin. Gue takut dengan kejutan Keluh aya dalam hati.
.........-______-.........
Pagi hari yang sejuk sehabis duguyur hujan semalaman. Jam telah menunjukkan pukul 07:46 pagi hari. Arta bangun dari tidurnya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu dia berjalan kearah halaman belakang rumah Aya yang terbilang besar itu. dia duduk menghadap rumah kaca yang berisi tanaman anggrek dan tanaman lainnya.
“rumah ini sepi banget. Tapi tenang.” Gumam Arta “aya kemana ya? Dia sekolah atau masih tidur?” tanya Arta dalam hati. lalu dia berjalan memasuki rumah aya, saat dia memasuki dapur ternyata ada seorang ibu paruh baya yang sedang berberes. Sepertinya pembantu Aya. Pembantu itu kaget saat melihat Arta ada didapur. Tadi pagi sepertinya saat dia datang rumah ini sepi.
“emmm jangan takut bi. Saya temannya Aya.” Kata arta seolah bisa membaca pikiran pembantunya aya itu.
“oooooh. Kok gak pernah keliatan mas? Eh iya perkenalkan saya yuanita. Panggil bi yu aja.” kata bi yu memperkenalkan diri.
“eh.. oh... emm saya Arta bi yu.”
“semalam mas Arta nginep disini ya?” tanya bi yu penasaran.
“eh... iya bi.”
“udah sarapan mas? Emmm kayaknya pucet banget. Makan dulu ya mas. Bi yu bikinin mie goreng” tawar bi yu
“eh..eh,.... nanti aja bi. Emmm ayanya sekolah apa masih tidur bi?” tanya Arta akhirnya
“kayaknya dia gak sekolah mas. Masih dikamarnya kayaknya” jawab bi yu sambil kembali ke kesibukanya
“kamarnya Aya yang mana ya bi? Saya pengen liat dia bi”
“oh itu den. Naik aja kelantai dua. Nanti disana ada kamar yang diujung, yang diarah barat. Nah pintunya warna coklat ada gantungan bintang warna hitam-merah-putih disitu. Itu kamarnya mbak aya” kata si bibi menjelaskan panjang lebar
“ooooh. Oke bi makasih yaa. Saya izin ke kamar aya ya bi.”
“oh. Iyaa mas, silahkan. Bi yu bikinin sarapan buat kalian ya”
.........-______-.........
Arta hanya memandangi pintu kamar itu. tak berani mengetuk ataupun memanggil Aya. Diam terpaku melihat pintu itu. satu jam-dua jam-tiga jam-empat jam. Hingga kini matahari telah berjalan kebawah, menuju arah barat. Jam telah menunjukkan pukul 14:34 terdengar suara teriakan bi yu yang mengatakan bahwa dia akan pulang karena pekerjaannya telah selesai.
Arta turun dia keruang makan dan melihat makanan yang ada diatas meja. “gak nafsu banget gue mau makan. Cuma ada mie goreng sama telor doang. Delivery ajalah”. Setengah jam berlalu makanan pun sampai. Kini Arta berniat ke kamar Aya untuk mengantarkan makanan ini. Dia tau Aya dari pagi pasti belum makan. Karena Aya juga belum keluar kamar sejak pagi tadi.
Arta mengetuk pintu kamar Aya namun tak dibuka pintu kamar itu. dan ternyata kamar itu tak dikunci. Arya masuk kekamar itu mendapati aya sedang duduk bersandar pada balkon kamarnya dengan kepala tertunduk didalam lipatan lututnya. Dalam diam. Arta mendekati aya dengan perlahan. Dipegang bahu cewek itu namun tak mendapat sambutan. Saat diguncangnya tubuh cewek itu ternyata dia tertidur. Tertidur dengan sangat pulas. Seulas senyum terlihat dari bibirnya yang tertidur itu. matanya sembab dan sedikit bengkak, sepertinya dia habis menangis.
Arta segera menggendong tubuh Aya untuk membiarkannya tidur dikasur. Namun Aya mengigau dengan tiba-tiba menarik Arta hingga Arta terjatuh disampingnya. Jarang diantara mereka sangat tipis hanya sekiar 2cm. Hembusan nafas masing-masing sangat terasa. Dengan sedekat itu Arta bisa melihat bagaimana wajah Aya, dihafalkannya setiap lekukan wajah itu. matanya, hidungnya, bibirnya. Semua dari gadis itu. dari pertama bertemu telah membuat Arta tertarik. Bukannya Arta bersikap muna’ tapi dia memang lebih ingin menjadi pelampiasan Aya. Karna dia tau Aya sangat butuh orang seperti itu, butuh orang sebagai tempat dia mengeluarkan semua emosinya, dan itu adalah Arta.
“temenin gue ta. Gue capek banget. Jangan tinggalin gue juga” kata Aya lirih, membuat arta kaget, dan segera bangun dari posisinya itu.dia duduk disamping tempat tidur itu.
“gue gak bakal ninggalin elo kok ay.tapi waktu yang bakalan bikin kita saling ninggalin” kata Arta sambil menggenggam tangan Aya yang hangat.
Aya kembali tertidur. Dan Arta hanya memandangi Wajah yang tertidur itu. sangat polos.
.........-______-.........
Satu jam berlalu kini Arta sudah bisa menguasai dirinya sendiri. Dia keluar dari kamar Aya dan berjalan menuju ruang makan. Makanan yang tadi dibawanya kekamar Aya juga dia bawa ke ruang makan. Dan dihabiskanya salah satu makanan yang dia pesan tadi. Tanpa disadari ternyata didepan pintu aya telah berdiri menyadarkan dirinya kedinding. Aya hanya melihat saja tanpa berniat mendatangi Arta saat itu. dia masih menunggu sampai arta sadar akan kehadiranya disana.
Tak beberapa lama Arta tersadar akan kedatangan cewek itu disana. Segera dipanggilnya Aya untuk mendekat dan makan bersama. Hening mendominasi. Dalam diam termenung dipikiran masing-masing.
“kak ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak suara cewek yang tentu saja Aya sangat kenal.
Aya segera bangkit dari makanya, dia berjalan kedepan menghampiri suara itu. dilihatnya Rara sedang berdiri menyandar pada tembok, wajahnya pucat, matanya begitu lelah, Aya segera menghampiri Rara yang telah lemas beridiri di dindin itu. saat Aya membantu Rara untuk berjalan, tiba-tiba Rara pingsan, spontan Aya berteriak. Arta yang sebenarnya tidak ingin perduli, akhirnya dengan tergopoh-gopoh menghampiri Aya diruang tamu. Arta kaget Aya sedang duduk dilantai dengan seorang cewek yang pucat dipangkuanya.
“kenapa ay?” tanya Arta sambil berusaha mengangkat Rara
“udah jangan banyak nanya, bantu gue bawa dia kemobil.” Kata Aya sambil mengambil kunci mobil, sedangkan Rara telah digendong Arta
“ ke..kerumah sakit? “ tanya Arta, dia baru saja semalam kabur dari rumah sakit. Dan dia berjanji tidak akan kerumah sakit lagi, karena selama hidup Arta hampir selalu dia habiskan waktu dirumah sakit itu.
“iya lah! Udah buruan” Aya segera berlari, Arta dibelakang menyusulnya sambil menggendong Rara.
.........-______-.........
lanjutannya mana tan??? geregetan nih... ;)
BalasHapusLanjutan nya kok gak ada?
BalasHapusntan? blog baeru lagikah?
BalasHapusbeluuuuuum dilanjutin u,u
BalasHapusgak sempet ngeposttt.