Sabtu, 31 Maret 2012

Bisakah waktu terhenti?

Di sudut cafe Arta terlihat sedang gelisah menunggu seseorang. Matanya tak sekalipun berkedip dari pintu masuk. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya ditemukanya cewek yang dari tadi dia tunggu diantara pengunjung yang lain. Cewek itu terlihat sangat tomboy dengan sepatu kets hitam dengan kaos biru dan kemeja merah kotak-kotak dengan lengan tergulung.
Arta mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan kepada cewek itu untuk menghampirinya.
“ada apa?” tanya cewek itu  yang ternyata memiliki nama Nayara, tapi dia lebih suka kalau dipanggil aya
“gini... gini” Arta mengambil nafas sejenak “Gue capek ay ” ucap Arta
“Capek kenapa? dan apa hubunganya sama gue?” tanya yaya bingung
“Gue capek jadi bahan omongan anak-anak. Maksud gue ngajakin elo kesini itu gue pengen kita jadian.”
“APA??? Gue gak salah denger kan?” Kata aya setengah berteriak
“dengerin gue dulu!” kata Arta sedikit kesal “kita gak jadian dalam arti sebenarnya, kita sandiwara aja. gue udah capek soalnya”
“terserah lo aja. gue juga capek” jawab aya “emmm udah kan? Kita Cuma mau ngomongin ini doang kan? Kalau udah gue cabut. Sepupu gue mau dateng hari ini”
“iya udah kok. Sepupu lo? Siapa?” tanya Arta penasaran
“penting ya buat lo?” kata aya judas.
“enggak penting sih, Cuma mau tau aja. mau gue anter?” tawar Arta kepada aya
“enggak usah, tadi gue pergi sendiri jadi gue balik juga mesti sendiri. Lagian itu mobil gue mau ditaroh dimana?!! besok siap-siap deh ya buat sandiwara kita. Lo SMS gue aja apa yang mesti kita lakuin besok. Jangan nelfon! Lo tau kan gue gak suka kalau ditelfon. Sekarang Lo yang jadi penulis skrenarionya.”  Kata aya sambil menepuk pundak Arta yang duduk disebelahnya
“oke gue tau. Gue SMS-in elo entar malem. Dan besok kita siapin buat semuanya. Bikin satu sekolah geger lagi. Hahahah” kata Arta sambil tertawa.
.........-______-.........
 “hai ra. Apa kabar?” tanya aya saat melihat Rara sepupunya telah duduk manis dibalkon kamarnya.
“masih seperti biasa. Berharap!” jawab Rara lesu
“jangan berhenti berharap ya ra. Kakak disini kok buat kamu.” Kata Aya sambil memeluk Rara yang memandangi halaman belakang, yang menghadap ke arah barat itu.
“makasih ya kak. Jagain Bunda ya kak nanti. Rara pesen”
“oke! tapi Ra..”
“tapi apa kak?”
“Rara gak bakal ninggalin kakak kan?” tanya Aya
“ehmmm enggak kok. Rara gak bakal ninggalin kakak. Tapi waktu yang bakal bikin Rara ngilang dari kakak dan semuanya” jawab Rara lemah, sambil menahan tangis
“Rara jangan nangis!” kata Aya yang melihat tanda-tanda Rara yang sepertinya ingin menangis “eh ra kakak mau cerita nih” Aya membangkitkan suasana
“cerita apaan kak?”
“jadi gini” Aya pun bercerita semuanya kepada Rara. Semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dari kegiatannya disekolah, tentang Arta, tentang anak-anak sekelas. Pokoknya semua hal yang bisa membuat adik sepupunya ini tertawa. Walaupun sebentar paling enggak Aya ingin Rara melupakan semuanya. Yang terjadi padanya, apapunlah yang selalu bikin Rara nangis.
Rara adik sepupunya. Adik satu-satunya. Adik dari keluarga mamanya itu. ya Ayah Aya adalah anak tunggal sedangkan mama Aya hanya memiliki satu saudara, dan Rara adalah sepupu satu-satunya. Makanya aya sangat sayang kepada rara. Aya gak bakalan ngebiarin Rara nangis sendiri. Rara masih terlalu labil, dia masih terlalu kecil untuk ngadepin ini semua. Hanya aya yang dia punya
.........-______-.........
HP Aya bergetar lama, itu artinya ada telfon masuk. Segera di reject oleh aya telfon itu. lalu di sms si penelfon
Kan udah dibilang SMS aja! gue gak biasa nerima telfon!
Tak lama sebuah SMS masuk dari Arta
Haha sorry. Gue lupa jadi kita langsung aja ya! Gue maunya kita sandiwara didepan anak-anak. Yaa selayaknya kayak orang pacaran. Tapi ini Cuma disekolah doang! Entar lo liat aja besok. Lo ikutin aja alur yan udah gue bikin.
Aya membalas sms itu dengan tak bersemangat dengan hanya membalas ‘Y’ tak ada balasan lagi dari Arta. Aya hanya diam, memikirkan apa yang akan dibikin oleh Arta cowok yang udah dari kelas 10 itu menjadi musuhnya. Arta yang menjadi musuh Aya, orang yang selalu Aya marahi. Orang yang selalu Aya omelin. Sudah lebih dari setahun Arta menjadi orang yang menerima itu semua dari Aya.  Namun sekarang? Mereka harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Saling menumpahkan kasih sayang, saling berbaik hati, tak ada omongan yang keras, tak ada bentak-bentakan lagi kalau mereka berbicara. Yang ada malah omongan lembut nan manja. Siapapun pasti akan bingung
.........-______-.........
Hari ini adalah tanggal 28 oktober. Hari sumpah pemuda! Disekolah diadakan upacara untuk memperingati hari ini. Hal yang paling dibenci seluruh siswa adalah upacara. Saat upacara berlangsung Arta sibuk sendiri. Entahlah apa yang sedang dia lakukan, tapi seperti biasa dia mengganggu anak-anak lain yang sedang mengikuti upacara dengan setengah hati dan tanpa hati. kepala sekolah yang sedang berdiri akhirnya menyuruh guru PPL untuk menarik Arta. Karena dari tadi Arta sibuk menjaili teman-temannya.
Arta yang kaget langsung mengikuti guru PPL itu berjalan. Saat dia sedang berdiri sejajar dengan kepala sekolah, kepala sekolah menyuruhnya untuk membacakan isi dari Sumpah Pemuda, dan dengan percaya dirinya serta suaranya yang lantang Arta berbicara dengan menggunakan mic “AYAAAAAAAA LO MAU GAK JADI CEWEK GUE?!”  seketika Aya terdiam, satu sekolah bercie dengan kompak. Kepala sekolah terdiam, guru-guru ternganga, para PPL pada sirik! “AYAAAAAAAAA LO MAU GAK JADI PACAR GUE?!!!!” teriak Arta lagi. Kali ini semua mata telah memandangnya mengisyaratkanya untuk ikut maju, dan berteriak kalau Aya menerimanya. “lo itu gak pernah bikin gue tenang ya?! Selalu bikin masalah. Tau gini ogah banget gue setuju!” umpat Aya dalam hati.
Tiba-tiba Arta berlari menghampiri Aya dan duduk dihadapannya, membawakan sebuah kalung perak kehadapannya. Tanpa ba-bi-bu semua siswa kini telah membentuk lingkaran, entahlah dengan disengaja atau tidak, jika dilihat dari atas lingaran itu membentuk love! Aya yang sudah malu setengah mati akhirnya hanya bisa diam.dan bertanya-tanya apa maksud Arta ini. “maksud lo apa?! Kita kan Cuma pura-pura. Ini kenapa sampe sebegininya! Orang yang serius aja gak sampe kayak gini ta!!” kata aya berbisik!!
“GUEEE SERIUS YA! BUKAN CUMA PURA-PURA GUE SERIUS! INI BENERAN!!” ucap Arta lagi.  Aya semakin terkejut, wajah Arta yang terlihat pucat entah karena juga menahan malu atau dia memang sakit. Dan akhirnya aya pun ambil suara, setelah melihat satu-persatu siswa yang berkeliling mengelilingi mereka
“OKEEE... GUE JAWAB I........” aya belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Arta roboh. Aya spontan menahan tubuh Arta yang berat itu, walau akhirnya sama-sama terjatuh. Kelilingan seketika semakin mendekat, teman-teman Arta segera membopong tubuh Arta menuju UKS. Semua guru hanya geleng-geleng kepala. Bingung. Prihatin!.
Sekitar satu jam Arta masih juga gak sadar. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Saat itu Aya sebenarnya gak mau ikut kerumah sakit, tapi berhubung dipaksa akhirnya dia ikut juga kerumah sakit.
Sesampainya mereka kerumah sakit, memori Aya kembali berputar mengingat semuanya, Rara.
Arta segera dibawa keruang UGD. Aya sampai saat ini masih biasa-biasa saja. Setelah diberi pertolongan pertama Arta segera dibawa keruang perawatan. Ada perasaa beban dihati Aya saat itu.
.........-______-.........
Aya pulang kerumahnya. Sepi seperti biasa. Orang tuanya memang selalu sibuk hampir tak pernah ada dirumah. Kadang Aya lebih sering pulang kerumah Rara dari pada dirumah sendiri. Karena paling enggak disana dia ada yang mengurusnya. Aya memang lebih dekat dengan Rara dibandingkan dengan Mama atau Papanya.
Namun sejak beberapa tahun terakhir sejak dia tahu kalau Rara gak bakal bisa sama-sama dengan dia lagi. Sejak Rara diRawat di rumah sakit,sejak rara gak dibolehkan lagi keluar rumah,. Sejak-sejak-sejak! Entahlah lama-lama ingin dia lupakan semua itu. berpura-pura takkan ada yang terjadi pada rara.  Berpura-pura kalau semuanya baik-baik aja. berpura-pura tak ada yang terjadi dan kembali ke kehidupan dia saat lalu, yang terukir dengan banyak tawa, yang tertanam dengan banyak senyum.
Aya membuka pintu kamarnya. kamarnya yang bernuansa merah marun itu kontras dengan langit sore. Dibukanya pintu kaca bening dengan gorden jingga itu, angin sore menyambutnya saat pertama kali ia langkahkan kakinya kebalkon kamarnya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Diingat-ingatnya kejadian dari pagi tadi,Arta-Ditembak waktu upacara-arta pingsan-masuk rumah sakit-Rara. Semua itu berputar-putar dalam memori otaknya, membuatnya semakin bingung, pusing. Dia duduk di atas balkon yang memang ia minta untuk menghadap kebarat itu. dia benamkan kepalanya dalam lututnya, bahunya berguncang. Dia menangis.
Langit indah berwarna oranye jingga itu hilang kini telah menjadi warna keungu-unguan. Dan lama-kelamaan langit mulai gelap. Tak ada bintang apalagi bulan yang terlihat disana, sepertinya langit sedang mendung. Dalam gelap aya biarkan tetesan air dari pelupuk matanya mengalir. Sengaja aya tak menghidupkan lampu. Dibiarkannya gelap begitu saja. Karena menurutnya gelap dapat menutupi kelemahaanya saat ini, tangisanya.
Satu-dua-tiga-dan tak terhitung butiran air menghujam bumi, aya tersenyum menyadari itu. “hujan turun, gue suka ini. Makasih tuhan, engkau kirimkan hujan saat ini untuk menemaniku, untuk menghiburku” gumam aya sambil tersenyum. Di dengarkanya melodi-melodi dalam hujan itu, diperhatikanya tetesan-tetesan air hujan yang sampai ketanah. Begitu kompak, begitu indah. Membuat gerakan yang sangat mengagumkan.
Jam sudah menunjukan pukul 2:13 dini hari. dia mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Bukan mobil salah satu orang tuanya. Suara mobilnya sangat asing dia dengar. Segera  dia segera berlari turun membukakan pintu untuk orang yang telah rela datang tengah malam begini dan sedang turun hujan pula.




to be continued.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar