Sabtu, 31 Maret 2012

Bisakah waktu terhenti?

Di sudut cafe Arta terlihat sedang gelisah menunggu seseorang. Matanya tak sekalipun berkedip dari pintu masuk. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya ditemukanya cewek yang dari tadi dia tunggu diantara pengunjung yang lain. Cewek itu terlihat sangat tomboy dengan sepatu kets hitam dengan kaos biru dan kemeja merah kotak-kotak dengan lengan tergulung.
Arta mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan kepada cewek itu untuk menghampirinya.
“ada apa?” tanya cewek itu  yang ternyata memiliki nama Nayara, tapi dia lebih suka kalau dipanggil aya
“gini... gini” Arta mengambil nafas sejenak “Gue capek ay ” ucap Arta
“Capek kenapa? dan apa hubunganya sama gue?” tanya yaya bingung
“Gue capek jadi bahan omongan anak-anak. Maksud gue ngajakin elo kesini itu gue pengen kita jadian.”
“APA??? Gue gak salah denger kan?” Kata aya setengah berteriak
“dengerin gue dulu!” kata Arta sedikit kesal “kita gak jadian dalam arti sebenarnya, kita sandiwara aja. gue udah capek soalnya”
“terserah lo aja. gue juga capek” jawab aya “emmm udah kan? Kita Cuma mau ngomongin ini doang kan? Kalau udah gue cabut. Sepupu gue mau dateng hari ini”
“iya udah kok. Sepupu lo? Siapa?” tanya Arta penasaran
“penting ya buat lo?” kata aya judas.
“enggak penting sih, Cuma mau tau aja. mau gue anter?” tawar Arta kepada aya
“enggak usah, tadi gue pergi sendiri jadi gue balik juga mesti sendiri. Lagian itu mobil gue mau ditaroh dimana?!! besok siap-siap deh ya buat sandiwara kita. Lo SMS gue aja apa yang mesti kita lakuin besok. Jangan nelfon! Lo tau kan gue gak suka kalau ditelfon. Sekarang Lo yang jadi penulis skrenarionya.”  Kata aya sambil menepuk pundak Arta yang duduk disebelahnya
“oke gue tau. Gue SMS-in elo entar malem. Dan besok kita siapin buat semuanya. Bikin satu sekolah geger lagi. Hahahah” kata Arta sambil tertawa.
.........-______-.........
 “hai ra. Apa kabar?” tanya aya saat melihat Rara sepupunya telah duduk manis dibalkon kamarnya.
“masih seperti biasa. Berharap!” jawab Rara lesu
“jangan berhenti berharap ya ra. Kakak disini kok buat kamu.” Kata Aya sambil memeluk Rara yang memandangi halaman belakang, yang menghadap ke arah barat itu.
“makasih ya kak. Jagain Bunda ya kak nanti. Rara pesen”
“oke! tapi Ra..”
“tapi apa kak?”
“Rara gak bakal ninggalin kakak kan?” tanya Aya
“ehmmm enggak kok. Rara gak bakal ninggalin kakak. Tapi waktu yang bakal bikin Rara ngilang dari kakak dan semuanya” jawab Rara lemah, sambil menahan tangis
“Rara jangan nangis!” kata Aya yang melihat tanda-tanda Rara yang sepertinya ingin menangis “eh ra kakak mau cerita nih” Aya membangkitkan suasana
“cerita apaan kak?”
“jadi gini” Aya pun bercerita semuanya kepada Rara. Semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dari kegiatannya disekolah, tentang Arta, tentang anak-anak sekelas. Pokoknya semua hal yang bisa membuat adik sepupunya ini tertawa. Walaupun sebentar paling enggak Aya ingin Rara melupakan semuanya. Yang terjadi padanya, apapunlah yang selalu bikin Rara nangis.
Rara adik sepupunya. Adik satu-satunya. Adik dari keluarga mamanya itu. ya Ayah Aya adalah anak tunggal sedangkan mama Aya hanya memiliki satu saudara, dan Rara adalah sepupu satu-satunya. Makanya aya sangat sayang kepada rara. Aya gak bakalan ngebiarin Rara nangis sendiri. Rara masih terlalu labil, dia masih terlalu kecil untuk ngadepin ini semua. Hanya aya yang dia punya
.........-______-.........
HP Aya bergetar lama, itu artinya ada telfon masuk. Segera di reject oleh aya telfon itu. lalu di sms si penelfon
Kan udah dibilang SMS aja! gue gak biasa nerima telfon!
Tak lama sebuah SMS masuk dari Arta
Haha sorry. Gue lupa jadi kita langsung aja ya! Gue maunya kita sandiwara didepan anak-anak. Yaa selayaknya kayak orang pacaran. Tapi ini Cuma disekolah doang! Entar lo liat aja besok. Lo ikutin aja alur yan udah gue bikin.
Aya membalas sms itu dengan tak bersemangat dengan hanya membalas ‘Y’ tak ada balasan lagi dari Arta. Aya hanya diam, memikirkan apa yang akan dibikin oleh Arta cowok yang udah dari kelas 10 itu menjadi musuhnya. Arta yang menjadi musuh Aya, orang yang selalu Aya marahi. Orang yang selalu Aya omelin. Sudah lebih dari setahun Arta menjadi orang yang menerima itu semua dari Aya.  Namun sekarang? Mereka harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Saling menumpahkan kasih sayang, saling berbaik hati, tak ada omongan yang keras, tak ada bentak-bentakan lagi kalau mereka berbicara. Yang ada malah omongan lembut nan manja. Siapapun pasti akan bingung
.........-______-.........
Hari ini adalah tanggal 28 oktober. Hari sumpah pemuda! Disekolah diadakan upacara untuk memperingati hari ini. Hal yang paling dibenci seluruh siswa adalah upacara. Saat upacara berlangsung Arta sibuk sendiri. Entahlah apa yang sedang dia lakukan, tapi seperti biasa dia mengganggu anak-anak lain yang sedang mengikuti upacara dengan setengah hati dan tanpa hati. kepala sekolah yang sedang berdiri akhirnya menyuruh guru PPL untuk menarik Arta. Karena dari tadi Arta sibuk menjaili teman-temannya.
Arta yang kaget langsung mengikuti guru PPL itu berjalan. Saat dia sedang berdiri sejajar dengan kepala sekolah, kepala sekolah menyuruhnya untuk membacakan isi dari Sumpah Pemuda, dan dengan percaya dirinya serta suaranya yang lantang Arta berbicara dengan menggunakan mic “AYAAAAAAAA LO MAU GAK JADI CEWEK GUE?!”  seketika Aya terdiam, satu sekolah bercie dengan kompak. Kepala sekolah terdiam, guru-guru ternganga, para PPL pada sirik! “AYAAAAAAAAA LO MAU GAK JADI PACAR GUE?!!!!” teriak Arta lagi. Kali ini semua mata telah memandangnya mengisyaratkanya untuk ikut maju, dan berteriak kalau Aya menerimanya. “lo itu gak pernah bikin gue tenang ya?! Selalu bikin masalah. Tau gini ogah banget gue setuju!” umpat Aya dalam hati.
Tiba-tiba Arta berlari menghampiri Aya dan duduk dihadapannya, membawakan sebuah kalung perak kehadapannya. Tanpa ba-bi-bu semua siswa kini telah membentuk lingkaran, entahlah dengan disengaja atau tidak, jika dilihat dari atas lingaran itu membentuk love! Aya yang sudah malu setengah mati akhirnya hanya bisa diam.dan bertanya-tanya apa maksud Arta ini. “maksud lo apa?! Kita kan Cuma pura-pura. Ini kenapa sampe sebegininya! Orang yang serius aja gak sampe kayak gini ta!!” kata aya berbisik!!
“GUEEE SERIUS YA! BUKAN CUMA PURA-PURA GUE SERIUS! INI BENERAN!!” ucap Arta lagi.  Aya semakin terkejut, wajah Arta yang terlihat pucat entah karena juga menahan malu atau dia memang sakit. Dan akhirnya aya pun ambil suara, setelah melihat satu-persatu siswa yang berkeliling mengelilingi mereka
“OKEEE... GUE JAWAB I........” aya belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Arta roboh. Aya spontan menahan tubuh Arta yang berat itu, walau akhirnya sama-sama terjatuh. Kelilingan seketika semakin mendekat, teman-teman Arta segera membopong tubuh Arta menuju UKS. Semua guru hanya geleng-geleng kepala. Bingung. Prihatin!.
Sekitar satu jam Arta masih juga gak sadar. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Saat itu Aya sebenarnya gak mau ikut kerumah sakit, tapi berhubung dipaksa akhirnya dia ikut juga kerumah sakit.
Sesampainya mereka kerumah sakit, memori Aya kembali berputar mengingat semuanya, Rara.
Arta segera dibawa keruang UGD. Aya sampai saat ini masih biasa-biasa saja. Setelah diberi pertolongan pertama Arta segera dibawa keruang perawatan. Ada perasaa beban dihati Aya saat itu.
.........-______-.........
Aya pulang kerumahnya. Sepi seperti biasa. Orang tuanya memang selalu sibuk hampir tak pernah ada dirumah. Kadang Aya lebih sering pulang kerumah Rara dari pada dirumah sendiri. Karena paling enggak disana dia ada yang mengurusnya. Aya memang lebih dekat dengan Rara dibandingkan dengan Mama atau Papanya.
Namun sejak beberapa tahun terakhir sejak dia tahu kalau Rara gak bakal bisa sama-sama dengan dia lagi. Sejak Rara diRawat di rumah sakit,sejak rara gak dibolehkan lagi keluar rumah,. Sejak-sejak-sejak! Entahlah lama-lama ingin dia lupakan semua itu. berpura-pura takkan ada yang terjadi pada rara.  Berpura-pura kalau semuanya baik-baik aja. berpura-pura tak ada yang terjadi dan kembali ke kehidupan dia saat lalu, yang terukir dengan banyak tawa, yang tertanam dengan banyak senyum.
Aya membuka pintu kamarnya. kamarnya yang bernuansa merah marun itu kontras dengan langit sore. Dibukanya pintu kaca bening dengan gorden jingga itu, angin sore menyambutnya saat pertama kali ia langkahkan kakinya kebalkon kamarnya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Diingat-ingatnya kejadian dari pagi tadi,Arta-Ditembak waktu upacara-arta pingsan-masuk rumah sakit-Rara. Semua itu berputar-putar dalam memori otaknya, membuatnya semakin bingung, pusing. Dia duduk di atas balkon yang memang ia minta untuk menghadap kebarat itu. dia benamkan kepalanya dalam lututnya, bahunya berguncang. Dia menangis.
Langit indah berwarna oranye jingga itu hilang kini telah menjadi warna keungu-unguan. Dan lama-kelamaan langit mulai gelap. Tak ada bintang apalagi bulan yang terlihat disana, sepertinya langit sedang mendung. Dalam gelap aya biarkan tetesan air dari pelupuk matanya mengalir. Sengaja aya tak menghidupkan lampu. Dibiarkannya gelap begitu saja. Karena menurutnya gelap dapat menutupi kelemahaanya saat ini, tangisanya.
Satu-dua-tiga-dan tak terhitung butiran air menghujam bumi, aya tersenyum menyadari itu. “hujan turun, gue suka ini. Makasih tuhan, engkau kirimkan hujan saat ini untuk menemaniku, untuk menghiburku” gumam aya sambil tersenyum. Di dengarkanya melodi-melodi dalam hujan itu, diperhatikanya tetesan-tetesan air hujan yang sampai ketanah. Begitu kompak, begitu indah. Membuat gerakan yang sangat mengagumkan.
Jam sudah menunjukan pukul 2:13 dini hari. dia mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Bukan mobil salah satu orang tuanya. Suara mobilnya sangat asing dia dengar. Segera  dia segera berlari turun membukakan pintu untuk orang yang telah rela datang tengah malam begini dan sedang turun hujan pula.




to be continued.........

Sabtu, 17 Maret 2012

Untuk Langit Dari Bintang


“gue kalau lagi capek kesini. Kalau lagi pengen sendiri disini, kalau mau nyari ketenangan ya disini. Ini tempat gue. disinilah gue ” ucap cewek itu pada bayangannya sendiri kala sore itu.
“gue gak bisa marah sama mereka! Gue gak bisa egois sama mereka! Dak akhirnya gue Cuma bisa nahan diri! Gue Cuma bisa ngorbanin diri gue sendiri! Gue malah nyakitin diri gue sendiri! Gue emang bodoh!! GUE EMANG BEGO!!!! BEGO BANGET!!” teriak cewek itu lagi pada hamparan hijau didepannya itu.
Cewek yang ternyata bernama ‘Awan Langit Merah’ dan biasa dipanggil Ara itu terlihat sedang menangis tersedu-sedu memandangi langit berwarna merah jingga. Badanya yang tinggi dengan rambut yang panjang ikal. Seorang cewek yang begitu sangat menyesali kehadirannya didunia ini. Cewek yang sampai sekarang ini masih belum tau apa tujuannya dilahirkan. Cewek yang selalu menyesali hari-hari yang ia lewati dengan kebohonganya. Dengan tawa palsunya, dengan senyum munafiknya. Dengan kaliman ‘Gue gak apa-apa kok’ atau ‘santai aja, gue gak marah kok’ atau apalah yang menunjukkan kalau dia tidak apaa-apa. Namun pada dasarnya dia berbohong! Semua kebohongan itu ia bikin agar tak terlihat lemah! Agar tak ada yang mendekatinya karna kasihan, agar dia tak kehilangan semua orang yang dia sayang.  kebohongan adalah jalannya. Dan topeng adalah alatnya.
Dari kejauhan ada sesorang yang memperhatikannya dari belakang. Seorang gadis juga, dengan kaos putih dan cardigan jingga terlihat manis dia kenakan. Perawakannya pun tak berbeda jauh dari Ara. Tubuh yang ideal untuk seorang cewek, rambut panjang ikal. Namun gadis ini tak berponi.
Gadis itu menyaksikann luapan emosi ara. Kemarahan ara, entah ada apa antara dia dan ara.  Tapi yang pasti gadis itu ingin mengenal ara, ingin mengetahui orang yang telah terlalu sering  dia lihat ‘di tempatnya’.
Perlahan gadis itu berjalan mendekati ara. Embusan angin sore dengan matahari yang masih terik. Membuat beberapa daun gugur dari pohonnya. Gadis itu berjalan mendekat, dan jaraknya kini hanya sekitar satu meter saja. Gadis itu masih diam, masih belum mau memanggil ara. Karna dilihatnya ara masih saja menangis. Gadis itu duduk membiarkan ara larut dalam emosinya.
Langit mulai malam, warna yang mendominasi adalah biru gelap. Ara hendak pulang, saat di lihatnya seorang gadis sedang duduk dekat dengannya dia sangat terkejut.
“siapa lo? Sejak kapan lo disitu? Lo ngapain disitu?” pertanyaaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut ara saat melihat gadis itu.
Gadis itu diam
“kalau ditanya jawab! Ah tau deh gue capek!” kata ara sambil mengambil tasnya.
“sorry kak. Maaf dari tadi disini, dari awal, dari kakak histeris” kata gadis itu pelan, saat didapatinya Ara mulai menjauh.
“lo denger apa aja?! lo siapa?” tanya Ara lagi dengan berjalan berbalik mendekati gadis itu.
“banyak kak. Hampir semuanya aku denger. Maaf kalau aku lancang kak”
“ah udah lupain! Salah gue juga histeris ditemoat terbuka kayak gini.”
“nama kakak siapa?” tanya gadis itu tiba-tiba
“hahahahah” ara tertawa renyah “nama gue Awan Langit Merah. Kenapa? mau ketawa? Ketawa aja. nama gue emang aneh kok.”
“ehmmm emmm enggak kok kak. Namanya bagus banget. Awan langit Merah, awan itu bagaikan sesuatu yang tak bisa digapai, tak bisa disentuh. Mau gimanapun megang awan pasti akan hilang dari genggaman. Langit langit menandakan tempat yang bebas, tak ada peraturan.bebas banget di langit, biru. Tempat para bintang, tempat para awan. Langit itu bebas. Merah warna langit sore yang sangat langka.” Ucap gadis itu panjang lebar menjelaskan maksud dari Nama Ara itu.
“ha??” ara ternganga terdiam mendengarkan penjelasan gadis itu. “emm...oke-oke. gue bahkan baru tau tentang nama gue ternyata kayak gitu. Nama lo sendiri siapa?”
“nama aku kak? Hahahahah Hujan Bintang Senja. Namaku sama anehnya kayak nama kakak kok. Panggil aku Binta atau Bintang aja kak.” 
“oh. Gue cabut dulu ya.” Ara pamit dan pergi dari berjalan menjauh dari Binta
“emmm. Kak tunggu” panggil Binta saat mendapati Ara berjalan menjauh.
“apa?”sahut Ara menoleh.
“aku pengen kenal sama kakak. Boleh?”
“emm. Kalau hanya sekedar kenal doang. Fine-fine aja! asal jangan terlalu dekat. Gue takut.” Jawab Ara
“Makasih kak. Kasih aku kesempatan. Semoga lain waktu kita bisa ketemu.” Kata Binta sambil melambaikan tangan
Ara hanya tersenyum pahit. Dan berlalu begitu saja. Berbeda dengan Ara binta malah tersenyum puas. Entah apa yang sedang berada diantara mereka. Sesuatu yang aneh. Dan mungkin inilah tujuanya. Permulaaan dari semua ceritanya, awal dari hidupnya dengan orang yang baru dia kenal. Membuat sebuah dunia baru.
“...............”
subuh yang dingin, Ara bangun dengan wajah yang lemas “ada kejutan apalagi hari ini. Huh! Gue capek banget!!”  gumam Ara pagi itu. diambilnya handuk dan dialirkan air hangat kedalam bathub. Ditenggelamkan tubuhnya kedalam bathub. “sepi banget ya ini rumah, hahaha emang tiap hari kayak gini kan. Sendiri, dan sendiri. Hahaha” gumam ara sambil tertawa renyah.
Pagi seperti biasa rumahnya yang terbilang besar dengan halaman yang luas juga rimbun itu sangat terawat. Pembantu dan tukang kebunnya yang menjaga rumah itu. orang tua nya bercerai sekitar 3 tahun yang lalu, masing-masing telah punya kehidupan dan keluarga sendiri. Ara memang memilih untuk tinggal sendiri dirumah kedua orang tuanya itu. dia gak mau ikut dengan salah satu orang tuanya. Karena lagi-lagi alasanya dia gak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Orang tuanya telah mengecewakanya dengan mengambil keputusan untuk bercerai, sedangkan jika dia ikut ayah atau ibunya kemungkinan dia akan menanggung kecewa lagi. Karena perlakuan mereka. Dan Ara hanya ingin melindungi dirinya sendiri walaupun dengan cara yang menyakitkan dirinya sendiri itu. entahlah.
Mobil march putih milih Ara keluar dari pekarangan rumah. Jalan pagi ini yang terbilang masih sangat sepi, dan sangat pagi untuk seseorang pergi kesekolah. Ara melajukan kecepatan mobilnya dalam genangan-genangan air yang membasahi jalan setelah hujan malam tadi.
Lagu Avril Lavigne-when you’re gone mengalun keras di dalam mobil Ara yang mengenakan Seragam SMA Budi Utomo itu. sesekali dilantunkannya lirik-lirik lagu itu. saat itu disebelah kiri jalan dia melihat cewek yang sedang berjalan kaki. Orang itu sepertinya dia tau. Yap. Cewek yang dia temui semalam ‘ditempatnya’. Ara langsung mengerem mendadak mobilnya yang tadi lumayan melaju dengan kecepatan tinggi. Jalan yang masih tergenang air dan Binta ada disebelahnya sedangkan Ara mengerem secara tiba-tiba. Tak urung Air becek itu pun nyiprat seragam Binta. Ara yang kaget saat mengetahui ternyata dia berhenti dijalan yang salah, segera keluar dari Mobilnya dan menghampiri Binta yang bajunya kotor.
Binta yang tadinya hendak langsung ngomel-ngomel dengan orang yang telah mengotori seragamnya langsung diurungkan niatnya setelah dia tau siapa orang tersebut.
“eh sorry-sorry. Gak sengaja. Tadi niatnya Cuma mau nyamperin lo gak tau kalau ada genangan air disitu.” kata Ara merasa bersalah
“eh emm gak apa-apa kok kak. Tapi kayaknya aku bakalan balik dulu nih, mau ganti baju. Tapi kayaknya gak keburu deh”  ucap Binta, terdengar nada penyesalan dalam nada bicaranya itu.
“eh pakek baju gue aja. ini juga hari senin kan.” Tawar Ara
“eh... emmm gak ngerepotin kak?”
“ya enggak lah. Baju SMP gini doang, gak kepakek mah. Ada yang masih belum gue pakek juga kok.”
“ehmmm oke deh. Makasih ya kak”  Dan akhirnya mereka berdua pergi menuju rumah Ara.
Setibanya didalam rumah Ara. Binta memang sedikit terlihat bingung, rumah sebesar ini sangat sepi. Ara seolah mengerti apa yang ada dalam raut wajah Binta langsung bercerita.
“gue tinggal sendiri. Cuma ada pembantu doang. Jadi rumah ini sepi. Jangan heran.”
“oooooooooooooh.” Binta hanya ber’oh’ dan menunggu kelanjutan cerita Ara
“orang tua gue udah cerai. Mereka punya kehidupan masing-masing. Begitupun gue. gue selama 3 tahun terakhir Cuma butuh uang mereka aja.”
Binta kali ini diam. Dan tau bagaimana perihnya kehidupan Ara sebenarnya. Menjadikan daya tarik sendiri untuk Binta masuk kedalam kehidupan Ara. Dan membuat dunia yang beda dari dunia-dunia yang dia ciptakan dengan orang-orang lain.
Untuk Ara cerita ini akan berbeda. Untuk Langit dari Bintang.

Berlanjut............

Kamis, 15 Maret 2012

aku , kamu , mereka , dan perasaan kita semua


Sore yang tengah mendung , disebuah taman yg dipenuhi oleh pepohonan yang teduh bagi siapa saja yang berada disana . seorang gadis duduk sambil memuluk kedua lututnya , menyandarkan punggungnya ke salah satu pohon yang besar dan teduh . Tatapannya menatap lurus kedepan , menerawang kejadian beberapa bulan lalu yang sangat-sangat ia rindukan .

            “kamu mau janji gak sama aku ??”
            “janji apa?? “
            “kalo misal kita gak sama-sama lagi , aku mau kamu jangan lupain aku”
            “kok kamu ngomong gitu sih”
            “aku mau kamu mau janji sama aku”
            “aku janji!”

            Tetes bening seketika mengalir dari mata teduh gadis itu , mengalir di kedua pipinya , dan jatuh di antara kedua lututnya . Kejadian beberapa bulan itu masih saja terus bersarang dikepalanya , mengingatnya kembali membuat emosi gadis itu menjadi meluap . sedih , marah , bahagia , capek , semua campur aduk di benaknya .

            Milyaran tetes air mulai turun dari langit dan menghujam rerumputan di taman itu . Seketika gadis itu menengadah , membiarkan air matanya jatuh bersama hujan yang tengah membasahi wajahnya , membiarkan hujan menghapus air matanya .
            “mungkin Cuma hujan yang bersedia ngapus air mata gue” , batin gadis itu dalam hati.



                        Jam menunjukkan pukul 05:17 saat naomi membuka kedua matanya , masih terlalu pagi untuk hari libur seperti ini . Akhirnya naomi berusaha memejamkan kedua matanya lagi , tapi gagal , matanya menolak untuk tidur lagi.
            “sial , mau ngapain gue jam segini !”.
                        Akhirnya naomi hanya diam saja ditempat tidurnya , tanpa melakukan apa-apa . Hanya menatap langit-langit kamarnya yg dipenuhi bintang dengan tatapan menerawang dan penuh imajinasi .
                        Naomi segera tersadar , semalam dia tidak membalas sms-sms yang masuk karena badmood yang menyerangnya . Dicarinya hp ny itu dan melihat sms dari siapa saja yang masuk . Ternyata sebagian besar sms itu dari kiara , cewek yang sudah dia anggep sebagai adeknya sendiri selama satu tahun terkahir ini . Ada juga sms dari beberapa temannya yg seperti biasa Cuma mau minjem novel doank , dan sebuah sms dari seseorang yang saat ini sangat ingin dia lupakan .
                        “ ngapain lagi sih dia sms gue “ , ucapnya sambil membalas sms-sms yang masuk , kecuali sms dari orang yang sangat ingin ia lupakan itu .




                       
                        Pintu kamar naomi di ketok dari luar dengan sangat kasar dan keras .
            “Siapa ?” teriakan naomi tidak kalah besar dari ketukan di pintu kamarnya
            “bibi non , makanan udh siap tuh dibawah , makan dulu sana”
            “iyaa bi , entar aja”
            “cepetan yah non , ntar keburu dingin”
            “iyaa , makasih bi”

                        Naomi memang tidak tinggal dengan keluarganya . Dirumah berlantai dua ini Naomi tinggal dengan para pembantunya dan juga tukang kebunnya yang kadang merangkap jadi sopirnya .

                        Bukannya Naomi tidak punya keluarga , tapi inilah pilihannya . Mamanya meninggal dalam kecelakaaan mobil 2tahun silam , kecelakaan yang terjadi saat hujan turun dengan derasnya itu hanya merenggut nyawa mamanya . Papa naomi yang setelah kejadian itu hari-harinya terus dilanda kesedihan , memilih melanjutkan pekerjaannya diluar kota .

                        Naomi tidak punya kakak apalagi adek kandung . Makanya papanya mengajak naomi untuk ikut pindah , tapi naomi menolak ajakan papanya dengak halus dan tatapan kosong.
                        “Nao nanti mau tinggal dengan siapa ? ikut papa aja yuk”
                        “kan ada bibi sama mas ical pa , naomi disini ajalah”
                        “Kamu yakin ? kenapa gak ikut papa aja”
                        “Nao yakin pa , Nao masih pengen disini , pengen deket sama mama aja pa , maaf ya pa “
                        “yaudah kalo itu mau nao , baik-baik yah sayang disini , jangan bikin susah bibi sama mas ical”
                        “papa juga baik-baik yah disana , jangan sedih terus”

                        Naomi memang masih ingin tinggal dikota tempat dia dibesarkan ini . Bukan karena dia gak suka tinggal dengan papanya , tapi terlebih karena dia hanya ingin dekat dengan almarhumah mamanya saja . Itulah alasannya dulu.




                        “kak naomi main yoook” . seorang cewek berteriak didepan kamar naomi dengan semangat .
                        Naomi yang tengah tidur tidak mempedulikan teriakan cewek itu , dia malah menutup kepalanya dengan bantal .
                        Kiara , cewek yang berteriak didepan pintu kamar naomi kini telah berada didalam kamar naomi , walaupun tidak mendapatkan izin dari sang empunya kamar itu . Kiara berjalan menuju kasur tempat naomi tidur , dan segera membangunkannya . Tanpa ada perlawanan naomi pun bangun dari tidurnya .


                        “kak jalan yok , bete nih”
                        “cie yang bete , bete kenapa”
                        “jalan aja yok”
                        “ayook deh”

                        Sepanjang jalan baik naomi maupun kiara sama-sama diam , sibuk dengan pikiran masing-masing . Naomi yang menyetir mobil tidak melihat tatapan kosong disampingnya itu , dan saat dia menoleh tetesan bening telah mengalir perlahan di kedua pipi kiara.
                        Saat itu juga naomi mengarahkan mobilnya menuju taman tempat dia sering ingin sendirian , dan tanpa pernah mengajak siapapun untuk ikut ketaman ini . Dan kiara adalah orang pertama yang diajak naomi kesini .




                        Kiara menatap taman yang berisi pepohonan itu dengan tatapan teduh dan redup . Kakinya terus melangkah mengikuti Naomi yang berjalan didepannya dengan perlahan dan berhenti disalah satu pohon cukup besar yang menjadi favorit Naomi .

                        Naomi duduk bersandar di pohon itu , lalu diikuti oleh Kiara yang duduk bersandar disampingnya . Mereka berdua masih sama-sama diam , membiarkan angin membelai wajah mereka , membiarkan pohon dibelakang ini menjadi saksi kebisuan mereka untuk beberapa saat. Naomi akhirnya memecah keheningan itu dengan memulai pembicaraan pertama sejak keluar dari rumah .

                        “Di taman ini , bisa jadi tempat pelarian sesaat kalo ada masalah , jadi tempat istirahat terkhir saat gak ada lagi tempat didunia ini yang bersedia nenangin kamu” . naomi berbicara dengan tatapan menerawang kearah depan . Tapi Kiara tetap saja diam .
                        “ Disini kamu juga bisa jadi egois , sejenak ngelupain dunia dan orang-orang disekitar kamu , bisa ngurangin beban pikiran kamu juga, dan saat hujan turun kamu bakal ngelupain masalah kamu sejenak”.

                        Kiara meneteskan air mata saat menoleh kearah naomi yang sedang memandang lurus kedepan , dan bertanya dengan suara parau.
                        “kenapa hanya sejenak ? kenapa gak selamanya”
                        “karena masalah itu harus diselesin , bukan ngilang gitu aja”
                        Naomi pun menoleh ke arah kiara , dan terkejut karena lagi-lagi melihat Kiara menangis .
                        “kenapa nangis? Ada masalah ? cerita aja”

                        Bukannya menjawab Kiara malah kembali mengeluarkan air mata , dan menunduk .

                        Naomi membiarkan Kiara menangis disampingnya , tanpa mendesaknya untuk menceritkan apa yang membuatnya menangis , karna Naomi yakin kalo Kiara mau , dia pasti akan bercerita walaupun bukan sekarang .
                        “nangis aja kalo nangis bisa ngurangin rasa sesek di hati kiara” .

                        Dan Kiara pun sukses menangis tersedu-sedu mendengar ucapan naomi untuknya .




                        Langit telah gelap , lampu-lampu jalanan disepanjang jalan menuju rumah Naomi telah hidup . Kiara menolak untuk diantar kan pulang kerumahnya , dia lebih memilih ikut pulang kerumah Naomi , alasannya karna 2 hari kedepan adalah tanggal merah.
                        “kan besok libur kak tanggal merah , jadi gak sekolah”. Dengan senang hati Naomi pun membawa kiara menuju rumah .



                        Jam masih menunjukkan pukul 02:00 dini hari , saat kiara membuka kedua matanya . Dilihatnya sekelilingnya , dan orang yang tidur disampingnya itu .
                        Seketika sesak di dada itu menyerangnya lagi . Membuat ambruk pertahanan yang ada . Menghabiskan sisa kekuatan yang masih dimiliki . Dan saat itu juga Kiara menangis . Menangis menatap naomi yang sedang tertidur pulas disampingnya .
                        Tangisan diam itu ternyata luka gadis itu . Sakit yang dialaminya saat menatap naomi sangatlah besar . Luka itu menyayat sedikit demi sedikit hati kiara . Betapapun beratnya masalah itu , tidak akan dia ceritakan kepada naomi saat ini . Biarkan waktu yang menjelaskan semuanya . Biarkan air mata yang mendominasi hubungan mereka kedepannya .




                        Hari telah kembali cerah . Matahari tersenyum kepada dunia . Tersenyum kepada setiap orang . Tidak peduli orang itu sedih . Terus berusaha menyuntikkan energi kebahagiaan di awal yang cerah ini .

                        Nino yang sedari pagi telah bangun , kini hanya duduk-duduk saja didepan teras rumahnya , memperhatikan anak-anak kecil yang libur sekolah bermain di jalanan kompleks perumahan yang dia tempati . Membuat nino tiba-tiba mengingat kembali masa kecil nya .
                        “bahagia , dan gak kenal masalah” , ucap cowok itu pelan dan tersenyum pahit .
                        Nino berjalan menuju kamarnya , mencari hp nya yang dia silent sejak tadi malam . Tidak ada satupun sms yang penting ternyata .
                        Nino kemudian membuka fitur kontak , mencari salah satu nama yang sangat ingin diajaknya bicara saat itu , lalu menekan tombol hijau di hp nya .
                        Tidak diangkat . Berulang kali nino menghubungi orang itu , tetapi tidak ada satupun panggilannya yang dijawab . Akhirnya nino mengirimkan pesan singkat , berharap akan dibalas .
                        “kenapa gak jawab telpon gue , lo marah ya sama gue”.




                        Diruang yang  berbeda , di tempat yang masih juga berupa kamar tidur . naomi dan Kiara terlihat hanya santai-santai saja . Tidak ada aktivitas yang mereka kerjakan sedari tadi selain membaca novel sambil sesekali bersendagurau bersama.
                        Hari libur seperti ini memang sering dilewatkan naomi bersama kiara . Kadang Naomi yang menginap dirumah kiara , kadang kiara yang sukarela menginap dirumah naomi . Menghabiskan waktu libur seharian bersama-sama , melakukan kegiatan yang kadang membosankan bagi orang lain . Apapun mereka lakukan jika mereka bersama-sama.
                       
                        Naomi beranjak dari duduknya saat dia mendengar hp nya mengeluarkan nada tanda pesan . Saat itu juga naomi tersenyum saat melihat siapa pengirim sms singkat itu. Kiara yang melihat reaksi naomi , segera mencari hp nya sendiri yang ternyata sejak kemarin dia silent .
                        11 panggilan tidak terjawab , dan 3 sms . 8 dari 11 panggilan tidak terjawab itu adalah hasil karya Nino dan juga 1 sms diantara 3 sms itu . Selebihnya adalah mamanya yang menanyakan kabarnya .
                        Mood kiara segera hilang saat itu juga , berbeda dengan naomi yang sedari tadi senyum-senyum sendiri .






to be continued ............................................

Dia dan Pembawa lentera ... (part 2)


Pembawa lentera berada ditengah kebimbangan . Disatu sisi pembawa lentera ingin terus berada disamping nya , tapi disatu sisi rasa ingin pergi juga terus membayanginya . Pembawa lentera semakin kalut saat melihat dia menunduk . Menunduk yang begitu dalam , sampai pembawa lentera menyangka keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi .
Pembawa lentera terus melihat dia yang terhanyut dalam tundukannya itu , sampai akhirnya pembawa lentera berhenti mengamati dia .
Ada yang tidak diketahui pembawa lentera dari sikap menunduk itu . Ada yang tidak terlihat oleh pembawa lentera dari sikap menunduk itu .


Kini mereka berdua sama-sama diam . Sama-sama bermain dengan perasaan masing-masing , sama-sama terhanyut dalam imajinasi masing-masing.
Tanpa disadari , jarak diantara mereka telah tercipta . Posisi dia dan pembawa lentera seakan menegaskan semuanya.
Dia duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa mau menoleh kearah pembawa lentera . Sedangkan pembawa lentera kini berdiri tegak disampingnya dan menata lurus lurus kedepan.
Jarak itu memang begitu tipis , namun ternyata sangat terasa , dan kini terciptalah tembok-tembok bening sebagai penghalang mereka.


Sikap menunduk itu sesungguhnya hanya menyembunyikan air mata , hanya menyamarkan kesedihan .

Pembawa lentera akhirnya pergi. Pergi karna menyangka keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi karena dia tidak lagi berteriak agar pembawa lentera tidak pergi .
Dia tidak peduli dengan itu semua . Harapan rapuh itu akhirnya sirna dan musnah begitu saja . Bagai ombak yang menghapus goresan di pasir pantai.
Pembawa lentera memberinya jawaban . Pergi adalah pilihannya , membawa lentera ketempat yang lain .
Dia menangis sambil memeluk kedua lututnya , menangis dalam diam . Tangisan yang mengandung sakit yang sangat besar dan kecewa yang begitu mendalam. Kini dia telah kehilangan pembawa lenteranya , kehilangan sosok  malaikatnya.


Lama-kelamaan dia tidak menangisi semua itu lagi , dia yakin waktu akan membantunya untuk melupakan kesedihan itu , walau dia tidak tau kapan waktu itu akan tiba untuknya.


Pembawa lentera ternyata kembali . Namun ternyata jarak yang tercipta semakin membesar , semakin jelas , dan semakin menyakitkan untuk pembawa lentera dan dia .
Pembawa lentera memang tidak melihat dia menunduk lagi saat itu , karena dia kini telah mengangkat kepalanya dan menatap kosong kedepan dan tidak menoleh kearah pembawa lentera yang berdiri disampingnya.
Dia tau pembawa lentera muak dengan sikapnya . Dia tau pembawa lentera sangat lelah dengan sikapnya . Tapi dia sudah tidak tau harus berbuat apalagi.
Kepergian pembawa lentera yang sesaat itu telah memberinya pelajaran baru . Pelajaran yang menjelaskan bahwa setiap yang datang pasti akan pergi. Dari pelajaran itu dia mengerti suatu hal . kepercayaan seseorang adalah hal yang sangat mahal harganya. Dia tidak mau membuang sesuatu yang mahal dan berharga itu secara sia-sia.


Pembawa lentera akhirnya mengalah . Pembawa lentera kini telah duduk lagi disamping dia seperti saat pertama kali pembawa lentera duduk disampingnya , dan berharap dia mau menyandarkan kepalanya dipundak pembawa lentera lagi .
Tapi ternyata dia tidak menyandarkan kepalanya di pundak pembawa lentera , dia malah membisikkan sesuatu kepada pembawa lentera . Bisikkan yang begitu lirih dan menyimpan banyak luka . Pembawa lentera seketika membeku mendengar apa yang dia ucapkan.


Tau kah kalian apa yang dia bisikkan kepada pembawa lenteranya itu ?
“yang datang pasti akan pergi”.
Itulah yang diucapkannya kepada pembawa lenteranya.





to be continued guys ........................... :')

               

Minggu, 11 Maret 2012

Dalam Bayangan



Ini cerita bukan hanya sekedar tentang aku dan kamu, atau aku dan mereka ini adalah cerita tentang kita.
Sebuah kisah tentang dia dan ‘bayanganya’ yang hidup. Bayangan yang selalu mengikutinya, bersamanya, temanya, segalanya. Namun sayang ‘bayangan’ itu hanya akan tetap menjadi bayangan. Tak bisa disentuh, diraba. Tak bisa diajak bicara, tak terlihat wajahnya.



‘Bayangan’ itu selalu menginginkan kejaiban agar  menjadi nyata baginya. Bisa menyentuh dia, menghapus airmatanya jika dia menangis. Itu semua ingin ‘bayangan’ lakukan. Namun apa daya ‘bayangan’ itu begitu jauh untuk bisa menyentuhnya, meraba pipinya. Memelukanya, menyandarkan kepalanya ke ‘bayangan’ itu.

Dia pun begitu selalu menginginkan ‘bayanganya’ menjadi nyata. Menjadi benar-benar bisa dia sentuh. Bisa dia jadikan tempat sandaran, pelarian, menumpahkan amarah, semuanya. Bayangan itu sangat dekat dengannya dekat sekali. Namun begitu jauh hingga ‘bayangan’ itu tak tersentuh, tak teraba, hanya hidup dalam angan-angan. Namun begitu hidup dalam kehidupannya.



‘bayangan’ itu hanya bisa termenung sendiri saat ‘bayangan’ itu tau dia sedang menangis. Menyesal karena tak bisa berada disamping dia seperti yang dia dan ‘bayangan’ inginkan. Namun apa daya itu hanya sebuah keajaiban yang tak tau kapan bisa terwujud.

Dia hanya bisa menangis, dan terus menangis. Takut dan selalu ketakutan. Dia dan ‘bayangan’ itu.  maya dan nyata. Semakin kencang dia berlari menggapai ‘bayangan’ semakin sakit pula dia terjatuh. Semuanya membuatnya semakin kalut. Mengapa itu hanya dalam maya ? apa dia belum bisa mendapatkan itu dalam nyata? Kenapa harus maya? Dunia semu yang tak dapat dia sentuh, yang tak dapat dia rasakan kebenaranya. Apa dia kurang pantas untuk mendapatkan ‘bayangan’ itu dalam bentuk yang nyata? Apa ‘bayangan’ itu bisa menjadi nyata? Apa bisa?



‘bayangan’ itu menyesal, dan terus menyesal. Mengapa’bayangan’ dijadikan bayangan? Apa ‘bayangan’ gak bisa jadi nyata untuk dia? Apa ‘bayangan’ kurang pantas untuk menjadi sosok yang nyata untuk dia? ‘bayangan’ itu hanya ingin bisa menenangkannya, seperti dia menenangkan ‘bayangan’. Mengahapus air matanya. Apa ‘bayangan’ tidak pantas untuk menghapus air mata dia?! ‘bayangan’ hanya sekedar bayangannya yang begitu dekat bahkan menyatu denganya. Tapi dia tak bisa menyentuh, menggapai ‘bayangan’ itu. saat dia berusaha tak pernah sampai. Yang ada dia hanya merasakan sakit untuk kesekian kali, kalau sosok yang ingin dia gapai hanyalah berupa bayangan. Bukan sosok yang nyata!

Kembali dia dalam keterpurukan.  Menunggu dan terus menunggu waktu.

Hingga saatnya............




To be continue......