Sabtu, 07 April 2012

sebuah film :)


Sesak, sesak menahan air mata ini agar tak tumpah,
Namun masih saja bisa merembes melewati sisi-sisi rapuhku.
Sesak, sesak saat jantung ini dihujam dengan pahitnya kenyataan.
Begitu perihnya kenyataan ini.
Hingga aku berharap ini hanyalah mimpi

Namun aku salah, ini kenyataan.
Ini hidupku,
Ini ceritaku,
Ini pilihanku.

Pahit memang tapi inilah pilihanku!
Bukan-bukan. Ini bukan pilihanku,
Tapi pilihanlah yang memilihku,
Kadang hidup gak ngebolehin aku untuk milih dari sebuah pilihan.
Tapi pilihan itu yang akan bertarung untuk memilih aku

Aku disini hanya seorang penonton,
Juga sebagai sutradara,
Dan juga sebagai pemain dalam film hidupku

Aku duduk menonton,
Berkomentar betapa jeleknya film ini.
Aku juga yang berteriak meneriakin pemain, karena akulah sutradaranya
Yang bodohnya pemain itu adalah aku
Akulah yang berakting, menangis, tertawa semuanya.
Berharap bahwa aku telah sangat baik memainkan peranku.

Namun aku salah,!
Aku payah dalam memainkan peranku itu
Penonton yang tentu saja itu aku sendiri merasa kecewa!
Sangat kecewa!!!
Sutradara yang lagi-lagi itu adalah aku,
Merasa tidak puas, merasa semuanya sia-sia.
Sedangkan aku saat menjadi pemain,
Hanya bisa pasrah,
Walau sejujurnya aku marah!
Aku marah kenapa aku begitu bodoh dalam berakting,
Bahkan dalam sebuah film ku sendiri!
Yang kumainkan selama waktu berjalan bersamaku.


bisakah waktu terhenti ? #2

Jam rumah sakit menunjukan pukul 22:20 malam. Arta telah sadar, dokter yang menanganinya bernafas lega. Arta yang masih belum pulih benar itu masih terbaring lemah. Tak ada yang menemaninya malam itu. bahkan ayahnya tak ada disana. Dia sendirian, bahkan disaat yang seperti itu. kadang cowok ini memang sangat lemah, bahkan lebih dari yang orang kira. Dia memang selalu tertawa, dia memang selalu bisa membodohi semua orang dengan topeng yang dia kenakan. Dia memang bisa membohongi semua orang dengan semua ‘cerita bahagianya’. Dia memang bisa membiarkan seolah-olah dia itu sehat, fisik dan batinya.
Arta memang sangat pintar. Namun hanya satu yang tak bisa dia lakukan, dia gak bisa tertawa didalam hatinya, dia gak bisa membodoh-bodohi dirinya sendiri! Dia gak bisa membohongi kalau cerita yang dia jalani saat ini sangat menyakitkan, sangat menguras emosi bahkan untuk dia sendiri. dia lemah! Dan dia sadari itu
.........-______-.........
Aya hanya bisa terpaku diam ditempat saat dia sadari siapa yang sedang datang dan bertamu kerumahnya larut malam seperti ini. Arta. Arta datang dengan wajah pucatnya, dengan kaos putih yang menempel jelas dibadannya yang terbilang cukup ideal itu karena basah, dengan celana jinsnya. Badannya menggigil.
Aya segera menyuruh Arta masuk, segera diambilkannya handuk untuk arta. Dan dibikinkan secangkir cappucino hangat untuk Arta.
“baju lo basah mau pinjem baju gue gak?” tanya Aya setelah memberikan secangkir cappucino kepada Arta
“emmmmm”
“tenang, gue punya baju yang seukuran lo kok. Yang pasti bukan baju cewek” kata Aya begitu saja setelah melihat raut wajah Arta
“emmhh boleh deh” ucap Arta pelan
Tak lama kemudian Aya memberikan kaos berwarna hitam yang masih berplastik dan berlogo itu kepada Arta. Dipandanginya wajah Arta yang masih pucat itu.
“ngapain lo kesini?” tanya Aya, setelah hening yang mendominasi sejak tadi
“nyari ketenangan.” Jawab Arta ringan
“ha? Maksud lo?” tanya aya kaget.
“iyaaa gue kesini mau nyari ketenangan. Gue pengen istirahat. Gue capek. Boleh?”
“dari sekian banyak temen lo. Kenapa harus gue ta?”
“gak tau. Yang gue tau gue mau kesini. Alasannya apa gue gak tau. Boleh gak pertanyaan ditabung aja dulu. Gue capek banget. Kepala gue pusing. Gue mohon ay,” minta Arta penuh harap.
“okedeh. Gue kasihan sama lo. Entar gue siapin kamar buat lo.”
Aya berjalan dan menghilang dibalik pintu salah satu kamar dirumahnya. Arta tersenyum melihat itu. dipandangi lorong kosong tempat aya berjalan tadi.
“kamarnya udah siap. Lo masuk aja kekamar yg gue masukkin tadi. Gue mau istirahat gue capek. Gue ngantuk. Kalo lo laper buka aja kulkas, kalo lo ada apa-apa cari aja sendiri. Jangan ganggu gue”
Arta mengangguk mantap. Aya segera menaiki tangga dengan lemas. Arta memandangi punggu aya yang menghilang diujung tangga itu. dan dia segera masuk kekamar yang tadi dimasuki aya. Dihidupkanyanya lampu kamar itu, dan direbahkan tubuh lemahnya diatas kasur. Tak lama arta pun terlelap bersama mimpinya, bersama anganya, bersama ketakutanya selama ini.
.........-______-.........
Jam sudah menunjukkan pukul 4:14 subuh ini. Namun Aya masih saja terjaga didalam kamarnya. Kamar yang redup dan hanya diberi penerangan dari lentera dibalkon kamarnya. Pertanyaaan, rasa penasaran, bingung, takut. Semuanya beradu dalam pikirannya.
tuh cowo kenapa sih? Dia sakit apa? Kenapa dia malah datang ke gue? emang hubungan gue dengan dia apa? Apa ada yang salah dengan gue? Oh GOD sebenarnya ada apa ini? Ada kejutan apalagi besok. Gue takut. Takut kalau besok bakalan lebih parah dari ini, takut kalau besok gak bakal bisa kuat gue jalanin. Gue takut dengan kejutan   Keluh aya dalam hati.
.........-______-.........
Pagi hari yang sejuk sehabis duguyur hujan semalaman. Jam telah menunjukkan pukul 07:46 pagi hari. Arta bangun dari tidurnya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu dia berjalan kearah halaman belakang rumah Aya yang terbilang besar itu.  dia duduk menghadap rumah kaca yang berisi tanaman anggrek dan tanaman lainnya.
“rumah ini sepi banget. Tapi tenang.” Gumam Arta “aya kemana ya? Dia sekolah atau masih tidur?” tanya Arta dalam hati. lalu dia berjalan memasuki rumah aya, saat dia memasuki dapur ternyata ada seorang ibu paruh baya yang sedang berberes. Sepertinya pembantu Aya. Pembantu itu kaget saat melihat Arta ada didapur. Tadi pagi sepertinya saat dia datang rumah ini sepi.
“emmm jangan takut bi. Saya temannya Aya.” Kata arta seolah bisa membaca pikiran pembantunya aya itu.
“oooooh. Kok gak pernah keliatan mas? Eh iya perkenalkan saya yuanita. Panggil bi yu aja.” kata bi yu memperkenalkan diri.
“eh.. oh... emm saya Arta bi yu.”
“semalam mas Arta nginep disini ya?” tanya bi yu penasaran.
“eh... iya bi.”
“udah sarapan mas? Emmm kayaknya pucet banget. Makan dulu ya mas. Bi yu bikinin mie goreng” tawar bi yu
“eh..eh,.... nanti aja bi. Emmm ayanya sekolah apa masih tidur bi?” tanya Arta akhirnya
“kayaknya dia gak sekolah mas. Masih dikamarnya kayaknya” jawab bi yu sambil kembali ke kesibukanya
“kamarnya Aya yang mana ya bi? Saya pengen liat dia bi”
“oh itu den. Naik aja kelantai dua. Nanti disana ada kamar yang diujung, yang diarah barat. Nah pintunya warna coklat ada gantungan bintang warna hitam-merah-putih disitu. Itu kamarnya mbak aya” kata si bibi menjelaskan panjang lebar
“ooooh. Oke bi makasih yaa. Saya izin ke kamar aya ya bi.”
“oh. Iyaa mas, silahkan. Bi yu bikinin sarapan buat kalian ya”
.........-______-.........
Arta hanya memandangi pintu kamar itu. tak berani mengetuk ataupun memanggil Aya. Diam terpaku melihat pintu itu. satu jam-dua jam-tiga jam-empat jam. Hingga kini matahari telah berjalan kebawah, menuju arah barat. Jam telah menunjukkan pukul 14:34 terdengar suara teriakan bi yu yang mengatakan bahwa dia akan pulang karena pekerjaannya telah selesai.
Arta turun dia keruang makan dan melihat makanan yang ada diatas meja. “gak nafsu banget gue mau makan. Cuma ada mie goreng sama telor doang. Delivery ajalah”. Setengah jam berlalu makanan pun sampai. Kini Arta berniat ke kamar Aya untuk mengantarkan makanan ini. Dia tau Aya dari pagi pasti belum makan. Karena Aya juga belum keluar kamar sejak pagi tadi.
Arta mengetuk pintu kamar Aya namun tak dibuka pintu kamar itu. dan ternyata kamar itu tak dikunci. Arya masuk kekamar itu mendapati aya sedang duduk bersandar pada balkon kamarnya dengan kepala tertunduk didalam lipatan lututnya. Dalam diam. Arta mendekati aya dengan perlahan. Dipegang bahu cewek itu namun tak mendapat sambutan. Saat diguncangnya tubuh cewek itu ternyata dia tertidur. Tertidur dengan sangat pulas. Seulas senyum terlihat dari bibirnya yang tertidur itu. matanya sembab dan sedikit bengkak, sepertinya dia habis menangis.
Arta segera menggendong tubuh Aya untuk  membiarkannya tidur dikasur. Namun Aya mengigau dengan tiba-tiba menarik Arta hingga Arta terjatuh disampingnya. Jarang diantara mereka sangat tipis hanya sekiar 2cm. Hembusan nafas masing-masing sangat terasa. Dengan sedekat itu Arta bisa melihat bagaimana wajah Aya, dihafalkannya setiap lekukan wajah itu. matanya, hidungnya, bibirnya. Semua dari gadis itu. dari pertama bertemu telah membuat Arta tertarik. Bukannya Arta bersikap muna’ tapi dia memang lebih ingin menjadi pelampiasan Aya. Karna dia tau Aya sangat butuh orang seperti itu, butuh orang sebagai tempat dia mengeluarkan semua emosinya, dan itu adalah Arta.
“temenin gue ta. Gue capek banget. Jangan tinggalin gue juga” kata Aya lirih, membuat arta kaget, dan segera bangun dari posisinya itu.dia duduk disamping tempat tidur itu.
“gue gak bakal ninggalin elo kok ay.tapi waktu yang bakalan bikin kita saling ninggalin” kata Arta sambil menggenggam tangan Aya yang hangat.
Aya kembali tertidur. Dan Arta hanya memandangi Wajah yang tertidur itu. sangat polos.
.........-______-.........
Satu jam berlalu kini Arta sudah bisa menguasai dirinya sendiri.  Dia keluar dari kamar Aya dan berjalan menuju ruang makan. Makanan yang tadi dibawanya kekamar Aya juga dia bawa ke ruang makan. Dan dihabiskanya salah satu makanan yang dia pesan tadi. Tanpa disadari ternyata didepan pintu aya telah berdiri menyadarkan dirinya kedinding. Aya hanya melihat saja tanpa berniat mendatangi Arta saat itu. dia masih menunggu sampai arta sadar akan kehadiranya disana.
Tak beberapa lama Arta tersadar akan kedatangan cewek itu disana. Segera dipanggilnya Aya untuk mendekat dan makan bersama. Hening mendominasi. Dalam diam termenung dipikiran masing-masing.
“kak ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” teriak suara cewek yang tentu saja Aya sangat kenal.
Aya segera bangkit dari makanya, dia berjalan kedepan menghampiri suara itu. dilihatnya Rara sedang berdiri menyandar pada tembok, wajahnya pucat, matanya begitu lelah, Aya segera menghampiri Rara yang telah lemas beridiri di dindin itu. saat Aya membantu Rara untuk berjalan, tiba-tiba Rara pingsan, spontan Aya berteriak. Arta yang sebenarnya tidak ingin perduli, akhirnya dengan tergopoh-gopoh menghampiri Aya diruang tamu. Arta kaget Aya sedang duduk dilantai dengan seorang cewek yang pucat dipangkuanya.
“kenapa ay?” tanya Arta sambil berusaha mengangkat Rara
“udah jangan banyak nanya, bantu gue bawa dia kemobil.” Kata Aya sambil mengambil kunci mobil, sedangkan Rara telah digendong Arta
“ ke..kerumah sakit? “ tanya Arta, dia baru saja semalam kabur dari rumah sakit. Dan dia berjanji tidak akan kerumah sakit lagi, karena selama hidup Arta hampir selalu dia habiskan waktu dirumah sakit itu.
“iya lah! Udah buruan” Aya segera berlari, Arta dibelakang menyusulnya sambil menggendong Rara.
.........-______-.........

Sabtu, 31 Maret 2012

Bisakah waktu terhenti?

Di sudut cafe Arta terlihat sedang gelisah menunggu seseorang. Matanya tak sekalipun berkedip dari pintu masuk. Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya ditemukanya cewek yang dari tadi dia tunggu diantara pengunjung yang lain. Cewek itu terlihat sangat tomboy dengan sepatu kets hitam dengan kaos biru dan kemeja merah kotak-kotak dengan lengan tergulung.
Arta mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan kepada cewek itu untuk menghampirinya.
“ada apa?” tanya cewek itu  yang ternyata memiliki nama Nayara, tapi dia lebih suka kalau dipanggil aya
“gini... gini” Arta mengambil nafas sejenak “Gue capek ay ” ucap Arta
“Capek kenapa? dan apa hubunganya sama gue?” tanya yaya bingung
“Gue capek jadi bahan omongan anak-anak. Maksud gue ngajakin elo kesini itu gue pengen kita jadian.”
“APA??? Gue gak salah denger kan?” Kata aya setengah berteriak
“dengerin gue dulu!” kata Arta sedikit kesal “kita gak jadian dalam arti sebenarnya, kita sandiwara aja. gue udah capek soalnya”
“terserah lo aja. gue juga capek” jawab aya “emmm udah kan? Kita Cuma mau ngomongin ini doang kan? Kalau udah gue cabut. Sepupu gue mau dateng hari ini”
“iya udah kok. Sepupu lo? Siapa?” tanya Arta penasaran
“penting ya buat lo?” kata aya judas.
“enggak penting sih, Cuma mau tau aja. mau gue anter?” tawar Arta kepada aya
“enggak usah, tadi gue pergi sendiri jadi gue balik juga mesti sendiri. Lagian itu mobil gue mau ditaroh dimana?!! besok siap-siap deh ya buat sandiwara kita. Lo SMS gue aja apa yang mesti kita lakuin besok. Jangan nelfon! Lo tau kan gue gak suka kalau ditelfon. Sekarang Lo yang jadi penulis skrenarionya.”  Kata aya sambil menepuk pundak Arta yang duduk disebelahnya
“oke gue tau. Gue SMS-in elo entar malem. Dan besok kita siapin buat semuanya. Bikin satu sekolah geger lagi. Hahahah” kata Arta sambil tertawa.
.........-______-.........
 “hai ra. Apa kabar?” tanya aya saat melihat Rara sepupunya telah duduk manis dibalkon kamarnya.
“masih seperti biasa. Berharap!” jawab Rara lesu
“jangan berhenti berharap ya ra. Kakak disini kok buat kamu.” Kata Aya sambil memeluk Rara yang memandangi halaman belakang, yang menghadap ke arah barat itu.
“makasih ya kak. Jagain Bunda ya kak nanti. Rara pesen”
“oke! tapi Ra..”
“tapi apa kak?”
“Rara gak bakal ninggalin kakak kan?” tanya Aya
“ehmmm enggak kok. Rara gak bakal ninggalin kakak. Tapi waktu yang bakal bikin Rara ngilang dari kakak dan semuanya” jawab Rara lemah, sambil menahan tangis
“Rara jangan nangis!” kata Aya yang melihat tanda-tanda Rara yang sepertinya ingin menangis “eh ra kakak mau cerita nih” Aya membangkitkan suasana
“cerita apaan kak?”
“jadi gini” Aya pun bercerita semuanya kepada Rara. Semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dari kegiatannya disekolah, tentang Arta, tentang anak-anak sekelas. Pokoknya semua hal yang bisa membuat adik sepupunya ini tertawa. Walaupun sebentar paling enggak Aya ingin Rara melupakan semuanya. Yang terjadi padanya, apapunlah yang selalu bikin Rara nangis.
Rara adik sepupunya. Adik satu-satunya. Adik dari keluarga mamanya itu. ya Ayah Aya adalah anak tunggal sedangkan mama Aya hanya memiliki satu saudara, dan Rara adalah sepupu satu-satunya. Makanya aya sangat sayang kepada rara. Aya gak bakalan ngebiarin Rara nangis sendiri. Rara masih terlalu labil, dia masih terlalu kecil untuk ngadepin ini semua. Hanya aya yang dia punya
.........-______-.........
HP Aya bergetar lama, itu artinya ada telfon masuk. Segera di reject oleh aya telfon itu. lalu di sms si penelfon
Kan udah dibilang SMS aja! gue gak biasa nerima telfon!
Tak lama sebuah SMS masuk dari Arta
Haha sorry. Gue lupa jadi kita langsung aja ya! Gue maunya kita sandiwara didepan anak-anak. Yaa selayaknya kayak orang pacaran. Tapi ini Cuma disekolah doang! Entar lo liat aja besok. Lo ikutin aja alur yan udah gue bikin.
Aya membalas sms itu dengan tak bersemangat dengan hanya membalas ‘Y’ tak ada balasan lagi dari Arta. Aya hanya diam, memikirkan apa yang akan dibikin oleh Arta cowok yang udah dari kelas 10 itu menjadi musuhnya. Arta yang menjadi musuh Aya, orang yang selalu Aya marahi. Orang yang selalu Aya omelin. Sudah lebih dari setahun Arta menjadi orang yang menerima itu semua dari Aya.  Namun sekarang? Mereka harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Saling menumpahkan kasih sayang, saling berbaik hati, tak ada omongan yang keras, tak ada bentak-bentakan lagi kalau mereka berbicara. Yang ada malah omongan lembut nan manja. Siapapun pasti akan bingung
.........-______-.........
Hari ini adalah tanggal 28 oktober. Hari sumpah pemuda! Disekolah diadakan upacara untuk memperingati hari ini. Hal yang paling dibenci seluruh siswa adalah upacara. Saat upacara berlangsung Arta sibuk sendiri. Entahlah apa yang sedang dia lakukan, tapi seperti biasa dia mengganggu anak-anak lain yang sedang mengikuti upacara dengan setengah hati dan tanpa hati. kepala sekolah yang sedang berdiri akhirnya menyuruh guru PPL untuk menarik Arta. Karena dari tadi Arta sibuk menjaili teman-temannya.
Arta yang kaget langsung mengikuti guru PPL itu berjalan. Saat dia sedang berdiri sejajar dengan kepala sekolah, kepala sekolah menyuruhnya untuk membacakan isi dari Sumpah Pemuda, dan dengan percaya dirinya serta suaranya yang lantang Arta berbicara dengan menggunakan mic “AYAAAAAAAA LO MAU GAK JADI CEWEK GUE?!”  seketika Aya terdiam, satu sekolah bercie dengan kompak. Kepala sekolah terdiam, guru-guru ternganga, para PPL pada sirik! “AYAAAAAAAAA LO MAU GAK JADI PACAR GUE?!!!!” teriak Arta lagi. Kali ini semua mata telah memandangnya mengisyaratkanya untuk ikut maju, dan berteriak kalau Aya menerimanya. “lo itu gak pernah bikin gue tenang ya?! Selalu bikin masalah. Tau gini ogah banget gue setuju!” umpat Aya dalam hati.
Tiba-tiba Arta berlari menghampiri Aya dan duduk dihadapannya, membawakan sebuah kalung perak kehadapannya. Tanpa ba-bi-bu semua siswa kini telah membentuk lingkaran, entahlah dengan disengaja atau tidak, jika dilihat dari atas lingaran itu membentuk love! Aya yang sudah malu setengah mati akhirnya hanya bisa diam.dan bertanya-tanya apa maksud Arta ini. “maksud lo apa?! Kita kan Cuma pura-pura. Ini kenapa sampe sebegininya! Orang yang serius aja gak sampe kayak gini ta!!” kata aya berbisik!!
“GUEEE SERIUS YA! BUKAN CUMA PURA-PURA GUE SERIUS! INI BENERAN!!” ucap Arta lagi.  Aya semakin terkejut, wajah Arta yang terlihat pucat entah karena juga menahan malu atau dia memang sakit. Dan akhirnya aya pun ambil suara, setelah melihat satu-persatu siswa yang berkeliling mengelilingi mereka
“OKEEE... GUE JAWAB I........” aya belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Arta roboh. Aya spontan menahan tubuh Arta yang berat itu, walau akhirnya sama-sama terjatuh. Kelilingan seketika semakin mendekat, teman-teman Arta segera membopong tubuh Arta menuju UKS. Semua guru hanya geleng-geleng kepala. Bingung. Prihatin!.
Sekitar satu jam Arta masih juga gak sadar. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Saat itu Aya sebenarnya gak mau ikut kerumah sakit, tapi berhubung dipaksa akhirnya dia ikut juga kerumah sakit.
Sesampainya mereka kerumah sakit, memori Aya kembali berputar mengingat semuanya, Rara.
Arta segera dibawa keruang UGD. Aya sampai saat ini masih biasa-biasa saja. Setelah diberi pertolongan pertama Arta segera dibawa keruang perawatan. Ada perasaa beban dihati Aya saat itu.
.........-______-.........
Aya pulang kerumahnya. Sepi seperti biasa. Orang tuanya memang selalu sibuk hampir tak pernah ada dirumah. Kadang Aya lebih sering pulang kerumah Rara dari pada dirumah sendiri. Karena paling enggak disana dia ada yang mengurusnya. Aya memang lebih dekat dengan Rara dibandingkan dengan Mama atau Papanya.
Namun sejak beberapa tahun terakhir sejak dia tahu kalau Rara gak bakal bisa sama-sama dengan dia lagi. Sejak Rara diRawat di rumah sakit,sejak rara gak dibolehkan lagi keluar rumah,. Sejak-sejak-sejak! Entahlah lama-lama ingin dia lupakan semua itu. berpura-pura takkan ada yang terjadi pada rara.  Berpura-pura kalau semuanya baik-baik aja. berpura-pura tak ada yang terjadi dan kembali ke kehidupan dia saat lalu, yang terukir dengan banyak tawa, yang tertanam dengan banyak senyum.
Aya membuka pintu kamarnya. kamarnya yang bernuansa merah marun itu kontras dengan langit sore. Dibukanya pintu kaca bening dengan gorden jingga itu, angin sore menyambutnya saat pertama kali ia langkahkan kakinya kebalkon kamarnya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Diingat-ingatnya kejadian dari pagi tadi,Arta-Ditembak waktu upacara-arta pingsan-masuk rumah sakit-Rara. Semua itu berputar-putar dalam memori otaknya, membuatnya semakin bingung, pusing. Dia duduk di atas balkon yang memang ia minta untuk menghadap kebarat itu. dia benamkan kepalanya dalam lututnya, bahunya berguncang. Dia menangis.
Langit indah berwarna oranye jingga itu hilang kini telah menjadi warna keungu-unguan. Dan lama-kelamaan langit mulai gelap. Tak ada bintang apalagi bulan yang terlihat disana, sepertinya langit sedang mendung. Dalam gelap aya biarkan tetesan air dari pelupuk matanya mengalir. Sengaja aya tak menghidupkan lampu. Dibiarkannya gelap begitu saja. Karena menurutnya gelap dapat menutupi kelemahaanya saat ini, tangisanya.
Satu-dua-tiga-dan tak terhitung butiran air menghujam bumi, aya tersenyum menyadari itu. “hujan turun, gue suka ini. Makasih tuhan, engkau kirimkan hujan saat ini untuk menemaniku, untuk menghiburku” gumam aya sambil tersenyum. Di dengarkanya melodi-melodi dalam hujan itu, diperhatikanya tetesan-tetesan air hujan yang sampai ketanah. Begitu kompak, begitu indah. Membuat gerakan yang sangat mengagumkan.
Jam sudah menunjukan pukul 2:13 dini hari. dia mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Bukan mobil salah satu orang tuanya. Suara mobilnya sangat asing dia dengar. Segera  dia segera berlari turun membukakan pintu untuk orang yang telah rela datang tengah malam begini dan sedang turun hujan pula.




to be continued.........

Sabtu, 17 Maret 2012

Untuk Langit Dari Bintang


“gue kalau lagi capek kesini. Kalau lagi pengen sendiri disini, kalau mau nyari ketenangan ya disini. Ini tempat gue. disinilah gue ” ucap cewek itu pada bayangannya sendiri kala sore itu.
“gue gak bisa marah sama mereka! Gue gak bisa egois sama mereka! Dak akhirnya gue Cuma bisa nahan diri! Gue Cuma bisa ngorbanin diri gue sendiri! Gue malah nyakitin diri gue sendiri! Gue emang bodoh!! GUE EMANG BEGO!!!! BEGO BANGET!!” teriak cewek itu lagi pada hamparan hijau didepannya itu.
Cewek yang ternyata bernama ‘Awan Langit Merah’ dan biasa dipanggil Ara itu terlihat sedang menangis tersedu-sedu memandangi langit berwarna merah jingga. Badanya yang tinggi dengan rambut yang panjang ikal. Seorang cewek yang begitu sangat menyesali kehadirannya didunia ini. Cewek yang sampai sekarang ini masih belum tau apa tujuannya dilahirkan. Cewek yang selalu menyesali hari-hari yang ia lewati dengan kebohonganya. Dengan tawa palsunya, dengan senyum munafiknya. Dengan kaliman ‘Gue gak apa-apa kok’ atau ‘santai aja, gue gak marah kok’ atau apalah yang menunjukkan kalau dia tidak apaa-apa. Namun pada dasarnya dia berbohong! Semua kebohongan itu ia bikin agar tak terlihat lemah! Agar tak ada yang mendekatinya karna kasihan, agar dia tak kehilangan semua orang yang dia sayang.  kebohongan adalah jalannya. Dan topeng adalah alatnya.
Dari kejauhan ada sesorang yang memperhatikannya dari belakang. Seorang gadis juga, dengan kaos putih dan cardigan jingga terlihat manis dia kenakan. Perawakannya pun tak berbeda jauh dari Ara. Tubuh yang ideal untuk seorang cewek, rambut panjang ikal. Namun gadis ini tak berponi.
Gadis itu menyaksikann luapan emosi ara. Kemarahan ara, entah ada apa antara dia dan ara.  Tapi yang pasti gadis itu ingin mengenal ara, ingin mengetahui orang yang telah terlalu sering  dia lihat ‘di tempatnya’.
Perlahan gadis itu berjalan mendekati ara. Embusan angin sore dengan matahari yang masih terik. Membuat beberapa daun gugur dari pohonnya. Gadis itu berjalan mendekat, dan jaraknya kini hanya sekitar satu meter saja. Gadis itu masih diam, masih belum mau memanggil ara. Karna dilihatnya ara masih saja menangis. Gadis itu duduk membiarkan ara larut dalam emosinya.
Langit mulai malam, warna yang mendominasi adalah biru gelap. Ara hendak pulang, saat di lihatnya seorang gadis sedang duduk dekat dengannya dia sangat terkejut.
“siapa lo? Sejak kapan lo disitu? Lo ngapain disitu?” pertanyaaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut ara saat melihat gadis itu.
Gadis itu diam
“kalau ditanya jawab! Ah tau deh gue capek!” kata ara sambil mengambil tasnya.
“sorry kak. Maaf dari tadi disini, dari awal, dari kakak histeris” kata gadis itu pelan, saat didapatinya Ara mulai menjauh.
“lo denger apa aja?! lo siapa?” tanya Ara lagi dengan berjalan berbalik mendekati gadis itu.
“banyak kak. Hampir semuanya aku denger. Maaf kalau aku lancang kak”
“ah udah lupain! Salah gue juga histeris ditemoat terbuka kayak gini.”
“nama kakak siapa?” tanya gadis itu tiba-tiba
“hahahahah” ara tertawa renyah “nama gue Awan Langit Merah. Kenapa? mau ketawa? Ketawa aja. nama gue emang aneh kok.”
“ehmmm emmm enggak kok kak. Namanya bagus banget. Awan langit Merah, awan itu bagaikan sesuatu yang tak bisa digapai, tak bisa disentuh. Mau gimanapun megang awan pasti akan hilang dari genggaman. Langit langit menandakan tempat yang bebas, tak ada peraturan.bebas banget di langit, biru. Tempat para bintang, tempat para awan. Langit itu bebas. Merah warna langit sore yang sangat langka.” Ucap gadis itu panjang lebar menjelaskan maksud dari Nama Ara itu.
“ha??” ara ternganga terdiam mendengarkan penjelasan gadis itu. “emm...oke-oke. gue bahkan baru tau tentang nama gue ternyata kayak gitu. Nama lo sendiri siapa?”
“nama aku kak? Hahahahah Hujan Bintang Senja. Namaku sama anehnya kayak nama kakak kok. Panggil aku Binta atau Bintang aja kak.” 
“oh. Gue cabut dulu ya.” Ara pamit dan pergi dari berjalan menjauh dari Binta
“emmm. Kak tunggu” panggil Binta saat mendapati Ara berjalan menjauh.
“apa?”sahut Ara menoleh.
“aku pengen kenal sama kakak. Boleh?”
“emm. Kalau hanya sekedar kenal doang. Fine-fine aja! asal jangan terlalu dekat. Gue takut.” Jawab Ara
“Makasih kak. Kasih aku kesempatan. Semoga lain waktu kita bisa ketemu.” Kata Binta sambil melambaikan tangan
Ara hanya tersenyum pahit. Dan berlalu begitu saja. Berbeda dengan Ara binta malah tersenyum puas. Entah apa yang sedang berada diantara mereka. Sesuatu yang aneh. Dan mungkin inilah tujuanya. Permulaaan dari semua ceritanya, awal dari hidupnya dengan orang yang baru dia kenal. Membuat sebuah dunia baru.
“...............”
subuh yang dingin, Ara bangun dengan wajah yang lemas “ada kejutan apalagi hari ini. Huh! Gue capek banget!!”  gumam Ara pagi itu. diambilnya handuk dan dialirkan air hangat kedalam bathub. Ditenggelamkan tubuhnya kedalam bathub. “sepi banget ya ini rumah, hahaha emang tiap hari kayak gini kan. Sendiri, dan sendiri. Hahaha” gumam ara sambil tertawa renyah.
Pagi seperti biasa rumahnya yang terbilang besar dengan halaman yang luas juga rimbun itu sangat terawat. Pembantu dan tukang kebunnya yang menjaga rumah itu. orang tua nya bercerai sekitar 3 tahun yang lalu, masing-masing telah punya kehidupan dan keluarga sendiri. Ara memang memilih untuk tinggal sendiri dirumah kedua orang tuanya itu. dia gak mau ikut dengan salah satu orang tuanya. Karena lagi-lagi alasanya dia gak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Orang tuanya telah mengecewakanya dengan mengambil keputusan untuk bercerai, sedangkan jika dia ikut ayah atau ibunya kemungkinan dia akan menanggung kecewa lagi. Karena perlakuan mereka. Dan Ara hanya ingin melindungi dirinya sendiri walaupun dengan cara yang menyakitkan dirinya sendiri itu. entahlah.
Mobil march putih milih Ara keluar dari pekarangan rumah. Jalan pagi ini yang terbilang masih sangat sepi, dan sangat pagi untuk seseorang pergi kesekolah. Ara melajukan kecepatan mobilnya dalam genangan-genangan air yang membasahi jalan setelah hujan malam tadi.
Lagu Avril Lavigne-when you’re gone mengalun keras di dalam mobil Ara yang mengenakan Seragam SMA Budi Utomo itu. sesekali dilantunkannya lirik-lirik lagu itu. saat itu disebelah kiri jalan dia melihat cewek yang sedang berjalan kaki. Orang itu sepertinya dia tau. Yap. Cewek yang dia temui semalam ‘ditempatnya’. Ara langsung mengerem mendadak mobilnya yang tadi lumayan melaju dengan kecepatan tinggi. Jalan yang masih tergenang air dan Binta ada disebelahnya sedangkan Ara mengerem secara tiba-tiba. Tak urung Air becek itu pun nyiprat seragam Binta. Ara yang kaget saat mengetahui ternyata dia berhenti dijalan yang salah, segera keluar dari Mobilnya dan menghampiri Binta yang bajunya kotor.
Binta yang tadinya hendak langsung ngomel-ngomel dengan orang yang telah mengotori seragamnya langsung diurungkan niatnya setelah dia tau siapa orang tersebut.
“eh sorry-sorry. Gak sengaja. Tadi niatnya Cuma mau nyamperin lo gak tau kalau ada genangan air disitu.” kata Ara merasa bersalah
“eh emm gak apa-apa kok kak. Tapi kayaknya aku bakalan balik dulu nih, mau ganti baju. Tapi kayaknya gak keburu deh”  ucap Binta, terdengar nada penyesalan dalam nada bicaranya itu.
“eh pakek baju gue aja. ini juga hari senin kan.” Tawar Ara
“eh... emmm gak ngerepotin kak?”
“ya enggak lah. Baju SMP gini doang, gak kepakek mah. Ada yang masih belum gue pakek juga kok.”
“ehmmm oke deh. Makasih ya kak”  Dan akhirnya mereka berdua pergi menuju rumah Ara.
Setibanya didalam rumah Ara. Binta memang sedikit terlihat bingung, rumah sebesar ini sangat sepi. Ara seolah mengerti apa yang ada dalam raut wajah Binta langsung bercerita.
“gue tinggal sendiri. Cuma ada pembantu doang. Jadi rumah ini sepi. Jangan heran.”
“oooooooooooooh.” Binta hanya ber’oh’ dan menunggu kelanjutan cerita Ara
“orang tua gue udah cerai. Mereka punya kehidupan masing-masing. Begitupun gue. gue selama 3 tahun terakhir Cuma butuh uang mereka aja.”
Binta kali ini diam. Dan tau bagaimana perihnya kehidupan Ara sebenarnya. Menjadikan daya tarik sendiri untuk Binta masuk kedalam kehidupan Ara. Dan membuat dunia yang beda dari dunia-dunia yang dia ciptakan dengan orang-orang lain.
Untuk Ara cerita ini akan berbeda. Untuk Langit dari Bintang.

Berlanjut............

Kamis, 15 Maret 2012

aku , kamu , mereka , dan perasaan kita semua


Sore yang tengah mendung , disebuah taman yg dipenuhi oleh pepohonan yang teduh bagi siapa saja yang berada disana . seorang gadis duduk sambil memuluk kedua lututnya , menyandarkan punggungnya ke salah satu pohon yang besar dan teduh . Tatapannya menatap lurus kedepan , menerawang kejadian beberapa bulan lalu yang sangat-sangat ia rindukan .

            “kamu mau janji gak sama aku ??”
            “janji apa?? “
            “kalo misal kita gak sama-sama lagi , aku mau kamu jangan lupain aku”
            “kok kamu ngomong gitu sih”
            “aku mau kamu mau janji sama aku”
            “aku janji!”

            Tetes bening seketika mengalir dari mata teduh gadis itu , mengalir di kedua pipinya , dan jatuh di antara kedua lututnya . Kejadian beberapa bulan itu masih saja terus bersarang dikepalanya , mengingatnya kembali membuat emosi gadis itu menjadi meluap . sedih , marah , bahagia , capek , semua campur aduk di benaknya .

            Milyaran tetes air mulai turun dari langit dan menghujam rerumputan di taman itu . Seketika gadis itu menengadah , membiarkan air matanya jatuh bersama hujan yang tengah membasahi wajahnya , membiarkan hujan menghapus air matanya .
            “mungkin Cuma hujan yang bersedia ngapus air mata gue” , batin gadis itu dalam hati.



                        Jam menunjukkan pukul 05:17 saat naomi membuka kedua matanya , masih terlalu pagi untuk hari libur seperti ini . Akhirnya naomi berusaha memejamkan kedua matanya lagi , tapi gagal , matanya menolak untuk tidur lagi.
            “sial , mau ngapain gue jam segini !”.
                        Akhirnya naomi hanya diam saja ditempat tidurnya , tanpa melakukan apa-apa . Hanya menatap langit-langit kamarnya yg dipenuhi bintang dengan tatapan menerawang dan penuh imajinasi .
                        Naomi segera tersadar , semalam dia tidak membalas sms-sms yang masuk karena badmood yang menyerangnya . Dicarinya hp ny itu dan melihat sms dari siapa saja yang masuk . Ternyata sebagian besar sms itu dari kiara , cewek yang sudah dia anggep sebagai adeknya sendiri selama satu tahun terkahir ini . Ada juga sms dari beberapa temannya yg seperti biasa Cuma mau minjem novel doank , dan sebuah sms dari seseorang yang saat ini sangat ingin dia lupakan .
                        “ ngapain lagi sih dia sms gue “ , ucapnya sambil membalas sms-sms yang masuk , kecuali sms dari orang yang sangat ingin ia lupakan itu .




                       
                        Pintu kamar naomi di ketok dari luar dengan sangat kasar dan keras .
            “Siapa ?” teriakan naomi tidak kalah besar dari ketukan di pintu kamarnya
            “bibi non , makanan udh siap tuh dibawah , makan dulu sana”
            “iyaa bi , entar aja”
            “cepetan yah non , ntar keburu dingin”
            “iyaa , makasih bi”

                        Naomi memang tidak tinggal dengan keluarganya . Dirumah berlantai dua ini Naomi tinggal dengan para pembantunya dan juga tukang kebunnya yang kadang merangkap jadi sopirnya .

                        Bukannya Naomi tidak punya keluarga , tapi inilah pilihannya . Mamanya meninggal dalam kecelakaaan mobil 2tahun silam , kecelakaan yang terjadi saat hujan turun dengan derasnya itu hanya merenggut nyawa mamanya . Papa naomi yang setelah kejadian itu hari-harinya terus dilanda kesedihan , memilih melanjutkan pekerjaannya diluar kota .

                        Naomi tidak punya kakak apalagi adek kandung . Makanya papanya mengajak naomi untuk ikut pindah , tapi naomi menolak ajakan papanya dengak halus dan tatapan kosong.
                        “Nao nanti mau tinggal dengan siapa ? ikut papa aja yuk”
                        “kan ada bibi sama mas ical pa , naomi disini ajalah”
                        “Kamu yakin ? kenapa gak ikut papa aja”
                        “Nao yakin pa , Nao masih pengen disini , pengen deket sama mama aja pa , maaf ya pa “
                        “yaudah kalo itu mau nao , baik-baik yah sayang disini , jangan bikin susah bibi sama mas ical”
                        “papa juga baik-baik yah disana , jangan sedih terus”

                        Naomi memang masih ingin tinggal dikota tempat dia dibesarkan ini . Bukan karena dia gak suka tinggal dengan papanya , tapi terlebih karena dia hanya ingin dekat dengan almarhumah mamanya saja . Itulah alasannya dulu.




                        “kak naomi main yoook” . seorang cewek berteriak didepan kamar naomi dengan semangat .
                        Naomi yang tengah tidur tidak mempedulikan teriakan cewek itu , dia malah menutup kepalanya dengan bantal .
                        Kiara , cewek yang berteriak didepan pintu kamar naomi kini telah berada didalam kamar naomi , walaupun tidak mendapatkan izin dari sang empunya kamar itu . Kiara berjalan menuju kasur tempat naomi tidur , dan segera membangunkannya . Tanpa ada perlawanan naomi pun bangun dari tidurnya .


                        “kak jalan yok , bete nih”
                        “cie yang bete , bete kenapa”
                        “jalan aja yok”
                        “ayook deh”

                        Sepanjang jalan baik naomi maupun kiara sama-sama diam , sibuk dengan pikiran masing-masing . Naomi yang menyetir mobil tidak melihat tatapan kosong disampingnya itu , dan saat dia menoleh tetesan bening telah mengalir perlahan di kedua pipi kiara.
                        Saat itu juga naomi mengarahkan mobilnya menuju taman tempat dia sering ingin sendirian , dan tanpa pernah mengajak siapapun untuk ikut ketaman ini . Dan kiara adalah orang pertama yang diajak naomi kesini .




                        Kiara menatap taman yang berisi pepohonan itu dengan tatapan teduh dan redup . Kakinya terus melangkah mengikuti Naomi yang berjalan didepannya dengan perlahan dan berhenti disalah satu pohon cukup besar yang menjadi favorit Naomi .

                        Naomi duduk bersandar di pohon itu , lalu diikuti oleh Kiara yang duduk bersandar disampingnya . Mereka berdua masih sama-sama diam , membiarkan angin membelai wajah mereka , membiarkan pohon dibelakang ini menjadi saksi kebisuan mereka untuk beberapa saat. Naomi akhirnya memecah keheningan itu dengan memulai pembicaraan pertama sejak keluar dari rumah .

                        “Di taman ini , bisa jadi tempat pelarian sesaat kalo ada masalah , jadi tempat istirahat terkhir saat gak ada lagi tempat didunia ini yang bersedia nenangin kamu” . naomi berbicara dengan tatapan menerawang kearah depan . Tapi Kiara tetap saja diam .
                        “ Disini kamu juga bisa jadi egois , sejenak ngelupain dunia dan orang-orang disekitar kamu , bisa ngurangin beban pikiran kamu juga, dan saat hujan turun kamu bakal ngelupain masalah kamu sejenak”.

                        Kiara meneteskan air mata saat menoleh kearah naomi yang sedang memandang lurus kedepan , dan bertanya dengan suara parau.
                        “kenapa hanya sejenak ? kenapa gak selamanya”
                        “karena masalah itu harus diselesin , bukan ngilang gitu aja”
                        Naomi pun menoleh ke arah kiara , dan terkejut karena lagi-lagi melihat Kiara menangis .
                        “kenapa nangis? Ada masalah ? cerita aja”

                        Bukannya menjawab Kiara malah kembali mengeluarkan air mata , dan menunduk .

                        Naomi membiarkan Kiara menangis disampingnya , tanpa mendesaknya untuk menceritkan apa yang membuatnya menangis , karna Naomi yakin kalo Kiara mau , dia pasti akan bercerita walaupun bukan sekarang .
                        “nangis aja kalo nangis bisa ngurangin rasa sesek di hati kiara” .

                        Dan Kiara pun sukses menangis tersedu-sedu mendengar ucapan naomi untuknya .




                        Langit telah gelap , lampu-lampu jalanan disepanjang jalan menuju rumah Naomi telah hidup . Kiara menolak untuk diantar kan pulang kerumahnya , dia lebih memilih ikut pulang kerumah Naomi , alasannya karna 2 hari kedepan adalah tanggal merah.
                        “kan besok libur kak tanggal merah , jadi gak sekolah”. Dengan senang hati Naomi pun membawa kiara menuju rumah .



                        Jam masih menunjukkan pukul 02:00 dini hari , saat kiara membuka kedua matanya . Dilihatnya sekelilingnya , dan orang yang tidur disampingnya itu .
                        Seketika sesak di dada itu menyerangnya lagi . Membuat ambruk pertahanan yang ada . Menghabiskan sisa kekuatan yang masih dimiliki . Dan saat itu juga Kiara menangis . Menangis menatap naomi yang sedang tertidur pulas disampingnya .
                        Tangisan diam itu ternyata luka gadis itu . Sakit yang dialaminya saat menatap naomi sangatlah besar . Luka itu menyayat sedikit demi sedikit hati kiara . Betapapun beratnya masalah itu , tidak akan dia ceritakan kepada naomi saat ini . Biarkan waktu yang menjelaskan semuanya . Biarkan air mata yang mendominasi hubungan mereka kedepannya .




                        Hari telah kembali cerah . Matahari tersenyum kepada dunia . Tersenyum kepada setiap orang . Tidak peduli orang itu sedih . Terus berusaha menyuntikkan energi kebahagiaan di awal yang cerah ini .

                        Nino yang sedari pagi telah bangun , kini hanya duduk-duduk saja didepan teras rumahnya , memperhatikan anak-anak kecil yang libur sekolah bermain di jalanan kompleks perumahan yang dia tempati . Membuat nino tiba-tiba mengingat kembali masa kecil nya .
                        “bahagia , dan gak kenal masalah” , ucap cowok itu pelan dan tersenyum pahit .
                        Nino berjalan menuju kamarnya , mencari hp nya yang dia silent sejak tadi malam . Tidak ada satupun sms yang penting ternyata .
                        Nino kemudian membuka fitur kontak , mencari salah satu nama yang sangat ingin diajaknya bicara saat itu , lalu menekan tombol hijau di hp nya .
                        Tidak diangkat . Berulang kali nino menghubungi orang itu , tetapi tidak ada satupun panggilannya yang dijawab . Akhirnya nino mengirimkan pesan singkat , berharap akan dibalas .
                        “kenapa gak jawab telpon gue , lo marah ya sama gue”.




                        Diruang yang  berbeda , di tempat yang masih juga berupa kamar tidur . naomi dan Kiara terlihat hanya santai-santai saja . Tidak ada aktivitas yang mereka kerjakan sedari tadi selain membaca novel sambil sesekali bersendagurau bersama.
                        Hari libur seperti ini memang sering dilewatkan naomi bersama kiara . Kadang Naomi yang menginap dirumah kiara , kadang kiara yang sukarela menginap dirumah naomi . Menghabiskan waktu libur seharian bersama-sama , melakukan kegiatan yang kadang membosankan bagi orang lain . Apapun mereka lakukan jika mereka bersama-sama.
                       
                        Naomi beranjak dari duduknya saat dia mendengar hp nya mengeluarkan nada tanda pesan . Saat itu juga naomi tersenyum saat melihat siapa pengirim sms singkat itu. Kiara yang melihat reaksi naomi , segera mencari hp nya sendiri yang ternyata sejak kemarin dia silent .
                        11 panggilan tidak terjawab , dan 3 sms . 8 dari 11 panggilan tidak terjawab itu adalah hasil karya Nino dan juga 1 sms diantara 3 sms itu . Selebihnya adalah mamanya yang menanyakan kabarnya .
                        Mood kiara segera hilang saat itu juga , berbeda dengan naomi yang sedari tadi senyum-senyum sendiri .






to be continued ............................................