Sabtu, 17 Maret 2012

Untuk Langit Dari Bintang


“gue kalau lagi capek kesini. Kalau lagi pengen sendiri disini, kalau mau nyari ketenangan ya disini. Ini tempat gue. disinilah gue ” ucap cewek itu pada bayangannya sendiri kala sore itu.
“gue gak bisa marah sama mereka! Gue gak bisa egois sama mereka! Dak akhirnya gue Cuma bisa nahan diri! Gue Cuma bisa ngorbanin diri gue sendiri! Gue malah nyakitin diri gue sendiri! Gue emang bodoh!! GUE EMANG BEGO!!!! BEGO BANGET!!” teriak cewek itu lagi pada hamparan hijau didepannya itu.
Cewek yang ternyata bernama ‘Awan Langit Merah’ dan biasa dipanggil Ara itu terlihat sedang menangis tersedu-sedu memandangi langit berwarna merah jingga. Badanya yang tinggi dengan rambut yang panjang ikal. Seorang cewek yang begitu sangat menyesali kehadirannya didunia ini. Cewek yang sampai sekarang ini masih belum tau apa tujuannya dilahirkan. Cewek yang selalu menyesali hari-hari yang ia lewati dengan kebohonganya. Dengan tawa palsunya, dengan senyum munafiknya. Dengan kaliman ‘Gue gak apa-apa kok’ atau ‘santai aja, gue gak marah kok’ atau apalah yang menunjukkan kalau dia tidak apaa-apa. Namun pada dasarnya dia berbohong! Semua kebohongan itu ia bikin agar tak terlihat lemah! Agar tak ada yang mendekatinya karna kasihan, agar dia tak kehilangan semua orang yang dia sayang.  kebohongan adalah jalannya. Dan topeng adalah alatnya.
Dari kejauhan ada sesorang yang memperhatikannya dari belakang. Seorang gadis juga, dengan kaos putih dan cardigan jingga terlihat manis dia kenakan. Perawakannya pun tak berbeda jauh dari Ara. Tubuh yang ideal untuk seorang cewek, rambut panjang ikal. Namun gadis ini tak berponi.
Gadis itu menyaksikann luapan emosi ara. Kemarahan ara, entah ada apa antara dia dan ara.  Tapi yang pasti gadis itu ingin mengenal ara, ingin mengetahui orang yang telah terlalu sering  dia lihat ‘di tempatnya’.
Perlahan gadis itu berjalan mendekati ara. Embusan angin sore dengan matahari yang masih terik. Membuat beberapa daun gugur dari pohonnya. Gadis itu berjalan mendekat, dan jaraknya kini hanya sekitar satu meter saja. Gadis itu masih diam, masih belum mau memanggil ara. Karna dilihatnya ara masih saja menangis. Gadis itu duduk membiarkan ara larut dalam emosinya.
Langit mulai malam, warna yang mendominasi adalah biru gelap. Ara hendak pulang, saat di lihatnya seorang gadis sedang duduk dekat dengannya dia sangat terkejut.
“siapa lo? Sejak kapan lo disitu? Lo ngapain disitu?” pertanyaaan-pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut ara saat melihat gadis itu.
Gadis itu diam
“kalau ditanya jawab! Ah tau deh gue capek!” kata ara sambil mengambil tasnya.
“sorry kak. Maaf dari tadi disini, dari awal, dari kakak histeris” kata gadis itu pelan, saat didapatinya Ara mulai menjauh.
“lo denger apa aja?! lo siapa?” tanya Ara lagi dengan berjalan berbalik mendekati gadis itu.
“banyak kak. Hampir semuanya aku denger. Maaf kalau aku lancang kak”
“ah udah lupain! Salah gue juga histeris ditemoat terbuka kayak gini.”
“nama kakak siapa?” tanya gadis itu tiba-tiba
“hahahahah” ara tertawa renyah “nama gue Awan Langit Merah. Kenapa? mau ketawa? Ketawa aja. nama gue emang aneh kok.”
“ehmmm emmm enggak kok kak. Namanya bagus banget. Awan langit Merah, awan itu bagaikan sesuatu yang tak bisa digapai, tak bisa disentuh. Mau gimanapun megang awan pasti akan hilang dari genggaman. Langit langit menandakan tempat yang bebas, tak ada peraturan.bebas banget di langit, biru. Tempat para bintang, tempat para awan. Langit itu bebas. Merah warna langit sore yang sangat langka.” Ucap gadis itu panjang lebar menjelaskan maksud dari Nama Ara itu.
“ha??” ara ternganga terdiam mendengarkan penjelasan gadis itu. “emm...oke-oke. gue bahkan baru tau tentang nama gue ternyata kayak gitu. Nama lo sendiri siapa?”
“nama aku kak? Hahahahah Hujan Bintang Senja. Namaku sama anehnya kayak nama kakak kok. Panggil aku Binta atau Bintang aja kak.” 
“oh. Gue cabut dulu ya.” Ara pamit dan pergi dari berjalan menjauh dari Binta
“emmm. Kak tunggu” panggil Binta saat mendapati Ara berjalan menjauh.
“apa?”sahut Ara menoleh.
“aku pengen kenal sama kakak. Boleh?”
“emm. Kalau hanya sekedar kenal doang. Fine-fine aja! asal jangan terlalu dekat. Gue takut.” Jawab Ara
“Makasih kak. Kasih aku kesempatan. Semoga lain waktu kita bisa ketemu.” Kata Binta sambil melambaikan tangan
Ara hanya tersenyum pahit. Dan berlalu begitu saja. Berbeda dengan Ara binta malah tersenyum puas. Entah apa yang sedang berada diantara mereka. Sesuatu yang aneh. Dan mungkin inilah tujuanya. Permulaaan dari semua ceritanya, awal dari hidupnya dengan orang yang baru dia kenal. Membuat sebuah dunia baru.
“...............”
subuh yang dingin, Ara bangun dengan wajah yang lemas “ada kejutan apalagi hari ini. Huh! Gue capek banget!!”  gumam Ara pagi itu. diambilnya handuk dan dialirkan air hangat kedalam bathub. Ditenggelamkan tubuhnya kedalam bathub. “sepi banget ya ini rumah, hahaha emang tiap hari kayak gini kan. Sendiri, dan sendiri. Hahaha” gumam ara sambil tertawa renyah.
Pagi seperti biasa rumahnya yang terbilang besar dengan halaman yang luas juga rimbun itu sangat terawat. Pembantu dan tukang kebunnya yang menjaga rumah itu. orang tua nya bercerai sekitar 3 tahun yang lalu, masing-masing telah punya kehidupan dan keluarga sendiri. Ara memang memilih untuk tinggal sendiri dirumah kedua orang tuanya itu. dia gak mau ikut dengan salah satu orang tuanya. Karena lagi-lagi alasanya dia gak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Orang tuanya telah mengecewakanya dengan mengambil keputusan untuk bercerai, sedangkan jika dia ikut ayah atau ibunya kemungkinan dia akan menanggung kecewa lagi. Karena perlakuan mereka. Dan Ara hanya ingin melindungi dirinya sendiri walaupun dengan cara yang menyakitkan dirinya sendiri itu. entahlah.
Mobil march putih milih Ara keluar dari pekarangan rumah. Jalan pagi ini yang terbilang masih sangat sepi, dan sangat pagi untuk seseorang pergi kesekolah. Ara melajukan kecepatan mobilnya dalam genangan-genangan air yang membasahi jalan setelah hujan malam tadi.
Lagu Avril Lavigne-when you’re gone mengalun keras di dalam mobil Ara yang mengenakan Seragam SMA Budi Utomo itu. sesekali dilantunkannya lirik-lirik lagu itu. saat itu disebelah kiri jalan dia melihat cewek yang sedang berjalan kaki. Orang itu sepertinya dia tau. Yap. Cewek yang dia temui semalam ‘ditempatnya’. Ara langsung mengerem mendadak mobilnya yang tadi lumayan melaju dengan kecepatan tinggi. Jalan yang masih tergenang air dan Binta ada disebelahnya sedangkan Ara mengerem secara tiba-tiba. Tak urung Air becek itu pun nyiprat seragam Binta. Ara yang kaget saat mengetahui ternyata dia berhenti dijalan yang salah, segera keluar dari Mobilnya dan menghampiri Binta yang bajunya kotor.
Binta yang tadinya hendak langsung ngomel-ngomel dengan orang yang telah mengotori seragamnya langsung diurungkan niatnya setelah dia tau siapa orang tersebut.
“eh sorry-sorry. Gak sengaja. Tadi niatnya Cuma mau nyamperin lo gak tau kalau ada genangan air disitu.” kata Ara merasa bersalah
“eh emm gak apa-apa kok kak. Tapi kayaknya aku bakalan balik dulu nih, mau ganti baju. Tapi kayaknya gak keburu deh”  ucap Binta, terdengar nada penyesalan dalam nada bicaranya itu.
“eh pakek baju gue aja. ini juga hari senin kan.” Tawar Ara
“eh... emmm gak ngerepotin kak?”
“ya enggak lah. Baju SMP gini doang, gak kepakek mah. Ada yang masih belum gue pakek juga kok.”
“ehmmm oke deh. Makasih ya kak”  Dan akhirnya mereka berdua pergi menuju rumah Ara.
Setibanya didalam rumah Ara. Binta memang sedikit terlihat bingung, rumah sebesar ini sangat sepi. Ara seolah mengerti apa yang ada dalam raut wajah Binta langsung bercerita.
“gue tinggal sendiri. Cuma ada pembantu doang. Jadi rumah ini sepi. Jangan heran.”
“oooooooooooooh.” Binta hanya ber’oh’ dan menunggu kelanjutan cerita Ara
“orang tua gue udah cerai. Mereka punya kehidupan masing-masing. Begitupun gue. gue selama 3 tahun terakhir Cuma butuh uang mereka aja.”
Binta kali ini diam. Dan tau bagaimana perihnya kehidupan Ara sebenarnya. Menjadikan daya tarik sendiri untuk Binta masuk kedalam kehidupan Ara. Dan membuat dunia yang beda dari dunia-dunia yang dia ciptakan dengan orang-orang lain.
Untuk Ara cerita ini akan berbeda. Untuk Langit dari Bintang.

Berlanjut............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar