Ini cerita bukan hanya sekedar
tentang aku dan kamu, atau aku dan mereka ini adalah cerita tentang kita.
Sebuah kisah
tentang dia dan ‘bayanganya’ yang hidup. Bayangan yang selalu mengikutinya,
bersamanya, temanya, segalanya. Namun sayang ‘bayangan’ itu hanya akan tetap
menjadi bayangan. Tak bisa disentuh, diraba. Tak bisa diajak bicara, tak
terlihat wajahnya.
‘Bayangan’ itu selalu menginginkan kejaiban agar menjadi nyata baginya. Bisa menyentuh dia, menghapus airmatanya jika dia menangis. Itu semua ingin ‘bayangan’ lakukan. Namun apa daya ‘bayangan’ itu begitu jauh untuk bisa menyentuhnya, meraba pipinya. Memelukanya, menyandarkan kepalanya ke ‘bayangan’ itu.
Dia pun
begitu selalu menginginkan ‘bayanganya’ menjadi nyata. Menjadi benar-benar bisa
dia sentuh. Bisa dia jadikan tempat sandaran, pelarian, menumpahkan amarah,
semuanya. Bayangan itu sangat dekat dengannya dekat sekali. Namun begitu jauh
hingga ‘bayangan’ itu tak tersentuh, tak teraba, hanya hidup dalam angan-angan.
Namun begitu hidup dalam kehidupannya.
‘bayangan’ itu hanya bisa termenung sendiri saat ‘bayangan’ itu tau dia sedang menangis. Menyesal karena tak bisa berada disamping dia seperti yang dia dan ‘bayangan’ inginkan. Namun apa daya itu hanya sebuah keajaiban yang tak tau kapan bisa terwujud.
Dia hanya
bisa menangis, dan terus menangis. Takut dan selalu ketakutan. Dia dan ‘bayangan’
itu. maya dan nyata. Semakin kencang dia
berlari menggapai ‘bayangan’ semakin sakit pula dia terjatuh. Semuanya membuatnya
semakin kalut. Mengapa itu hanya dalam maya ? apa dia belum bisa mendapatkan
itu dalam nyata? Kenapa harus maya? Dunia semu yang tak dapat dia sentuh, yang
tak dapat dia rasakan kebenaranya. Apa dia kurang pantas untuk mendapatkan ‘bayangan’
itu dalam bentuk yang nyata? Apa ‘bayangan’ itu bisa menjadi nyata? Apa bisa?
‘bayangan’ itu menyesal, dan terus menyesal. Mengapa’bayangan’ dijadikan bayangan? Apa ‘bayangan’ gak bisa jadi nyata untuk dia? Apa ‘bayangan’ kurang pantas untuk menjadi sosok yang nyata untuk dia? ‘bayangan’ itu hanya ingin bisa menenangkannya, seperti dia menenangkan ‘bayangan’. Mengahapus air matanya. Apa ‘bayangan’ tidak pantas untuk menghapus air mata dia?! ‘bayangan’ hanya sekedar bayangannya yang begitu dekat bahkan menyatu denganya. Tapi dia tak bisa menyentuh, menggapai ‘bayangan’ itu. saat dia berusaha tak pernah sampai. Yang ada dia hanya merasakan sakit untuk kesekian kali, kalau sosok yang ingin dia gapai hanyalah berupa bayangan. Bukan sosok yang nyata!
Kembali dia
dalam keterpurukan. Menunggu dan terus
menunggu waktu.
Hingga saatnya............
To be
continue......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar