Pembawa
lentera berada ditengah kebimbangan . Disatu sisi pembawa lentera ingin terus
berada disamping nya , tapi disatu sisi rasa ingin pergi juga terus
membayanginya . Pembawa lentera semakin kalut saat melihat dia menunduk .
Menunduk yang begitu dalam , sampai pembawa lentera menyangka keberadaannya
sudah tidak diperlukan lagi .
Pembawa
lentera terus melihat dia yang terhanyut dalam tundukannya itu , sampai
akhirnya pembawa lentera berhenti mengamati dia .
Ada yang tidak
diketahui pembawa lentera dari sikap menunduk itu . Ada yang tidak terlihat
oleh pembawa lentera dari sikap menunduk itu .
Kini mereka
berdua sama-sama diam . Sama-sama bermain dengan perasaan masing-masing ,
sama-sama terhanyut dalam imajinasi masing-masing.
Tanpa disadari
, jarak diantara mereka telah tercipta . Posisi dia dan pembawa lentera seakan
menegaskan semuanya.
Dia duduk
sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa mau menoleh kearah pembawa
lentera . Sedangkan pembawa lentera kini berdiri tegak disampingnya dan menata
lurus lurus kedepan.
Jarak itu
memang begitu tipis , namun ternyata sangat terasa , dan kini terciptalah
tembok-tembok bening sebagai penghalang mereka.
Sikap menunduk
itu sesungguhnya hanya menyembunyikan air mata , hanya menyamarkan kesedihan .
Pembawa
lentera akhirnya pergi. Pergi karna menyangka keberadaannya sudah tidak
diperlukan lagi karena dia tidak lagi berteriak agar pembawa lentera tidak
pergi .
Dia tidak
peduli dengan itu semua . Harapan rapuh itu akhirnya sirna dan musnah begitu
saja . Bagai ombak yang menghapus goresan di pasir pantai.
Pembawa
lentera memberinya jawaban . Pergi adalah pilihannya , membawa lentera ketempat
yang lain .
Dia menangis
sambil memeluk kedua lututnya , menangis dalam diam . Tangisan yang mengandung
sakit yang sangat besar dan kecewa yang begitu mendalam. Kini dia telah
kehilangan pembawa lenteranya , kehilangan sosok malaikatnya.
Lama-kelamaan
dia tidak menangisi semua itu lagi , dia yakin waktu akan membantunya untuk
melupakan kesedihan itu , walau dia tidak tau kapan waktu itu akan tiba
untuknya.
Pembawa
lentera ternyata kembali . Namun ternyata jarak yang tercipta semakin membesar
, semakin jelas , dan semakin menyakitkan untuk pembawa lentera dan dia .
Pembawa
lentera memang tidak melihat dia menunduk lagi saat itu , karena dia kini telah
mengangkat kepalanya dan menatap kosong kedepan dan tidak menoleh kearah
pembawa lentera yang berdiri disampingnya.
Dia tau
pembawa lentera muak dengan sikapnya . Dia tau pembawa lentera sangat lelah
dengan sikapnya . Tapi dia sudah tidak tau harus berbuat apalagi.
Kepergian
pembawa lentera yang sesaat itu telah memberinya pelajaran baru . Pelajaran
yang menjelaskan bahwa setiap yang datang pasti akan pergi. Dari pelajaran itu
dia mengerti suatu hal . kepercayaan seseorang adalah hal yang sangat mahal
harganya. Dia tidak mau membuang sesuatu yang mahal dan berharga itu secara
sia-sia.
Pembawa
lentera akhirnya mengalah . Pembawa lentera kini telah duduk lagi disamping dia
seperti saat pertama kali pembawa lentera duduk disampingnya , dan berharap dia
mau menyandarkan kepalanya dipundak pembawa lentera lagi .
Tapi ternyata
dia tidak menyandarkan kepalanya di pundak pembawa lentera , dia malah
membisikkan sesuatu kepada pembawa lentera . Bisikkan yang begitu lirih dan
menyimpan banyak luka . Pembawa lentera seketika membeku mendengar apa yang dia
ucapkan.
Tau kah kalian
apa yang dia bisikkan kepada pembawa lenteranya itu ?
“yang
datang pasti akan pergi”.
Itulah yang
diucapkannya kepada pembawa lenteranya.
to be continued guys ........................... :')
to be continued guys ........................... :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar