Kamis, 15 Maret 2012

Dia dan Pembawa lentera ... (part 2)


Pembawa lentera berada ditengah kebimbangan . Disatu sisi pembawa lentera ingin terus berada disamping nya , tapi disatu sisi rasa ingin pergi juga terus membayanginya . Pembawa lentera semakin kalut saat melihat dia menunduk . Menunduk yang begitu dalam , sampai pembawa lentera menyangka keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi .
Pembawa lentera terus melihat dia yang terhanyut dalam tundukannya itu , sampai akhirnya pembawa lentera berhenti mengamati dia .
Ada yang tidak diketahui pembawa lentera dari sikap menunduk itu . Ada yang tidak terlihat oleh pembawa lentera dari sikap menunduk itu .


Kini mereka berdua sama-sama diam . Sama-sama bermain dengan perasaan masing-masing , sama-sama terhanyut dalam imajinasi masing-masing.
Tanpa disadari , jarak diantara mereka telah tercipta . Posisi dia dan pembawa lentera seakan menegaskan semuanya.
Dia duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa mau menoleh kearah pembawa lentera . Sedangkan pembawa lentera kini berdiri tegak disampingnya dan menata lurus lurus kedepan.
Jarak itu memang begitu tipis , namun ternyata sangat terasa , dan kini terciptalah tembok-tembok bening sebagai penghalang mereka.


Sikap menunduk itu sesungguhnya hanya menyembunyikan air mata , hanya menyamarkan kesedihan .

Pembawa lentera akhirnya pergi. Pergi karna menyangka keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi karena dia tidak lagi berteriak agar pembawa lentera tidak pergi .
Dia tidak peduli dengan itu semua . Harapan rapuh itu akhirnya sirna dan musnah begitu saja . Bagai ombak yang menghapus goresan di pasir pantai.
Pembawa lentera memberinya jawaban . Pergi adalah pilihannya , membawa lentera ketempat yang lain .
Dia menangis sambil memeluk kedua lututnya , menangis dalam diam . Tangisan yang mengandung sakit yang sangat besar dan kecewa yang begitu mendalam. Kini dia telah kehilangan pembawa lenteranya , kehilangan sosok  malaikatnya.


Lama-kelamaan dia tidak menangisi semua itu lagi , dia yakin waktu akan membantunya untuk melupakan kesedihan itu , walau dia tidak tau kapan waktu itu akan tiba untuknya.


Pembawa lentera ternyata kembali . Namun ternyata jarak yang tercipta semakin membesar , semakin jelas , dan semakin menyakitkan untuk pembawa lentera dan dia .
Pembawa lentera memang tidak melihat dia menunduk lagi saat itu , karena dia kini telah mengangkat kepalanya dan menatap kosong kedepan dan tidak menoleh kearah pembawa lentera yang berdiri disampingnya.
Dia tau pembawa lentera muak dengan sikapnya . Dia tau pembawa lentera sangat lelah dengan sikapnya . Tapi dia sudah tidak tau harus berbuat apalagi.
Kepergian pembawa lentera yang sesaat itu telah memberinya pelajaran baru . Pelajaran yang menjelaskan bahwa setiap yang datang pasti akan pergi. Dari pelajaran itu dia mengerti suatu hal . kepercayaan seseorang adalah hal yang sangat mahal harganya. Dia tidak mau membuang sesuatu yang mahal dan berharga itu secara sia-sia.


Pembawa lentera akhirnya mengalah . Pembawa lentera kini telah duduk lagi disamping dia seperti saat pertama kali pembawa lentera duduk disampingnya , dan berharap dia mau menyandarkan kepalanya dipundak pembawa lentera lagi .
Tapi ternyata dia tidak menyandarkan kepalanya di pundak pembawa lentera , dia malah membisikkan sesuatu kepada pembawa lentera . Bisikkan yang begitu lirih dan menyimpan banyak luka . Pembawa lentera seketika membeku mendengar apa yang dia ucapkan.


Tau kah kalian apa yang dia bisikkan kepada pembawa lenteranya itu ?
“yang datang pasti akan pergi”.
Itulah yang diucapkannya kepada pembawa lenteranya.





to be continued guys ........................... :')

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar